Close

“Anak-anak enggan menikmati masa kanak
Dewasa berbalik kekanak-kanakan” — bilik restoran cepat saji, 2018.

Pulang kampung kini tak lagi kecut saya rasa. Sang Agung sedikit meredam, tak berulah terlalu jauh. Di suatu Minggu kelabu, adik “nyaris ABG” saya menagih janji ulang tahun yang terlambat tiba; pergi makan. Hanya satu tempat makan tenar di tempat kami. Ini bisa jadi satu-satunya tempat paling ramai untuk berjanji temu, setelah satu pusat perbelanjaan gulung tikar.

Di jaman saya, sekitar hampir sembilan atau sepuluh tahun lalu, pusat perbelanjaan itu adalah tempat destinasi favorit untuk menghabiskan akhir minggu. Bahkan mereka menyediakan ruangan untuk menonton film layaknya bioskop mini.

Begitu tiba, saya terenyak. Ekspektasi saya, banyak orang seusia saya datang dan membawa laptop untuk bekerja atau sekedar browsing. Realitanya, adik saya amat populer disapa teman-teman satu sekolahnya. Hampir di setiap sudut, lengkap dengan sebuah ponsel pintar di tangan. Hampir di setiap genggaman. Catat: dia adalah seorang laki-laki kelas lima sekolah dasar. Begini ia membuka percakapan dengan saya saat tahu ekspresi saya yang sedikit aneh: “Di kota —tempat saya tinggal, pasti nggak ada anak SD yang main ke tempat begini buat nyari Wi-Fi”.

“Ya iyalah, mereka punya koneksi internet sendiri di rumah. Di kota koneksinya lebih kencang. Mereka main apa sih?”

Mobile legend. Game yang terkenal itu, lho!”

Saya hanya mengubah gerak mulut menjadi huruf O. Lalu ia melanjutkan,”Kalau mau cari Wi-Fi tapi nggak belanja, mereka biasanya lewat pintu belakang.”

Kembali saya manggut-manggut saja merespon celotehannya. Hmm… menarik. Ponsel pintar yang mereka pegang juga rata-rata merek kenamaan, lima juta ke atas.

Sementara di meja lain, gerombolan anak perempuan kelas enam SD (adik saya mengklaim salah satu yang ia kenal adalah kakak kelasnya), pun dengan ponsel pintar di tangan, bergosip dengan ritme cepat berhias kata patut sensor. Dari yang saya tangkap, topik pembicaraan mereka tak jauh dari laki-laki. Di sudut lain, gerombolan perempuan dewasa dengan usia dua kali lipatnya tak sekalipun menyentuh ponsel dan sibuk menertawakan diri sendiri. Lepas. Seperti anak-anak, mereka bercerita sembari meng-origami nota belanja menjadi burung kertas.

Di jaman saya, sekitar hampir sembilan atau sepuluh tahun lalu, bahkan seorang perempuan di sekolah menengah atas, selalu sibuk belajar dan berkutat dengan urusan rumah. Dididik layaknya seorang perempuan utuh. Didoktrin untuk tidak mengecewakan orang tua. Penghematan uang jajan sampai sebegitunya.

Mungkin saya di sembilan atau sepuluh tahun lalu, berhasil kekinian pada masanya. Dan saya saat ini, juga lolos jadi anak kekinian karena duduk di bilik restoran cepat saji, dengan ponsel pintar dan laptop di meja, menikmati fast food dan wi-fi, sambil sesekali menimpali adik lelaki yang ceriwis bercerita.

Leave a Reply

error: Content is protected !!