Apa kamu pernah berada dalam situasi atau perasaan yang tidak kamu kenal apa namanya? Perasaan itu benar-benar tidak mengenakkan. Senang? Bukan. Sedih? Tidak juga. Kecewa? Sepertinya kurang pas. Apa namanya?

Perasaan ini muncul mirip sekali ketika kamu lega baru aja dikirimin uang sama ortu untuk keperluan mendesak empat hari lagi, tapi ketika kamu akan ambil uang itu di atm kamu malah frustasi akibat salah memasukkan pin atm berulang kali karena kamu lupa padahal kamu lagi perlu uang banget, lalu bersusah payah mengurusnya ke bank setelah memohon-mohon ijin ke bos di saat jam kerjamu. Muncullah perasaan baru ketika kamu sampai di bank, ternyata kamu baru sadar bahwa ini adalah hari Sabtu (berhubung saya hari Sabtu kerja, hahahaha), dan kamu harus menunggu untuk bisa mengurusnya di hari Senin. Sampai tiba hari Senin, mbak-mbak CS menjanjikan angin surga untuk diselesaikan dalam waktu dua hari, which is udah lewat dari masa tenggang kebutuhan mendesak kan? Hingga pada akhirnya kamu sadar kecerobohanmu membuat runyam segalanya. Aaand, all you can (and have to) do is… SMILE. Apa namanya?

Masalah hati memang nggak bisa dipungkiri kekusutannya. Satu-satunya yang bisa mengubahnya adalah kompilasi antara waktu dan situasi. Kolaborasi itu bisa mengubah hati dalam waktu sedetik, bahkan sepersekian detik. Merentangkan jarak dengan sumber penyebab adalah pilihan terbaik dalam hal ini. Gimana kalau misalnya sumber itu tidak bisa dihindari? Sama seperti kelupaan yang tidak sengaja kamu lakukan? Tidak ada yang bisa merencanakan lupa. Tidak ada yang ingin lupa di saat yang tidak tepat. Tidak ada yang mau melupakan hal penting. But in the end, all you’re gonna do is find the solution. Kata orang, cinta juga begitu. Gambaran kejadian tadi lebih tepat diibaratkan untuk cinta yang bimbang, cinta yang tidak pasti, lebih tepatnya. Tapi, bukan sedih, marah, bahagia, kecewa, dan bukan juga ekspresi lain yang saya ketahui. Kutipan William Shakespeare dalam Twelfth Night Act 1, memberi saya sekelumit gambaran bahwa ketika kamu mengalami itu, maka yang kamu bisa lakukan selain option di atas adalah: harus ikhlas.

Duke Orsino:
If music be the food of love, play on,
Give me excess of it; that surfeiting,
The appetite may sicken, and so die.

Twelfth Night Act 1, scene 1, 1–3 Sama seperti saya, yang hingga kini perasaan ini tidak saya ketahui apa namanya. Sekian.