Reviews, Services, Stories

Bantu Dapatkan Visa Indonesia, Ada yang Mau Share Pengalaman?

Halo~ lama banget saya nggak berkabar di blog sendiri. Tujuh bulan (hampir) berlalu di 2018, terlalu banyak event yang terjadi dalam kehidupan saya sehingga saya ngecek blog hanya untuk melihat jika ada komentar masuk. (Terima kasih buat yang sudah baca!)

Jadi awal tahun disibukkan dengan segala tetek bengek persiapan pernikahan, lalu sibuk dengan perhelatan di bulan Maret lalu *bahasanya berasa ngalahin nikahan Prince Harry & Meghan Markle deh!*, sibuk bekerja biar bisa balik modal, sibuk pindahan ke rumah baru, sibuk ngidam trimester pertama (syukurnya habis nikah langsung dikasih momongan, ihiy!), sibuk menikmati hari-hari sebagai newlywed sekaligus calon ibu. Deg-degan!

Awal bulan Juli kemarin, ada drama menarik untuk jadi bahan tulisan. Karena bagi saya ini ilmu baru di dunia pervisa-an (maklum, saya nggak pernah kerja di agent visa dan sebangsanya, jadi murni belajar otodidak) saya geregetan dong, pengen nulis. Bermula dari seorang teman Korea yang ingin menetap di Bali selama kurang lebih empat bulan bersama Ibu kandung dan anaknya yang masih kecil, kira-kira 2 tahun, dia menghubungi saya karena ingin mengikuti kursus di salah satu sekolah spa di Bali. Masalahnya, kewarganegaraan si anak dan ibunya beda. Si anak ternyata ngikut kewarganegaraan bapaknya yang dari China.

Permasalahan dimulai ketika dia sudah pesan tiket sebelum apply visa karena saya sarankan ambil Sosial Budaya seperti yang biasanya saya lakukan. Akhirnya dia sendiri memutuskan untuk apply visa anaknya di KBRI China, sementara dia dan ibu kandungnya di negara asalnya, Korea. Kenapa pisah-pisah? Karena menurut informasi yang dia berikan, warga negara Korea tidak bisa apply visa di KBRI China, begitu juga sebaliknya– not sure why, mungkin ada yang lebih paham? Long story short, embassy minta visa telex dan ngga nerima surat sponsor sementara persyaratan lain sudah lengkap. Dia mulai menyebut ottokhae berkali-kali. 

Saya minta bantuan teman yang lebih mumpuni untuk memberi solusi. Oleh karena dia udah pesan penerbangan ke Indonesia, jadi saya sarankan masuk menggunakan free visa (ini karena rumor WN China ngga bisa masuk Indonesia pakai Visa on Arrival, kan saya keder yha~ menurut situs ini sih WN China bisa pakai VoA, tapi ada juga yang tidak mencantumkan). Baru kemudian mereka bertiga terbang ke Singapura dan mengurus visa Sosial Budaya melalui agent sebelum 30 hari berakhir.

Usut punya usut, WN China ternyata masuk Singapura harus pakai visa! Teng nong… 

Keribetan yang hakiki ini belum juga usai. Setelah browsing dan minta bantuan sana-sini, ternyata bisa mendaftar visa assessment level 1 (mungkin ada yang mau bantu jelaskan?) Setelah visa Singapura ini diperoleh, barulah si anak bisa didaftarkan untuk visa Sosial Budaya saat kembali ke Indonesia. Nah, cerita selanjutnya saya nantikan di bulan September, semoga aja ngga ada masalah berarti deh.

Saran saya untuk yang punya kolega atau teman atau partner yang mau mengunjungi dan perlu visa Indonesia, rajin-rajinlah mencari informasi baik di kenalan agent visa, di situs terpercaya pemerintah (kadang ada artikel yang tidak valid karena memang informasinya sudah kedaluwarsa).

Jika ada pengalaman serupa, boleh ditambahkan di kolom komentar.
Salam hangat,

 

Tagged , ,

Leave a Reply