Satu-satunya cerpen yang pernah dimuat di Bali Post Minggu. LOL

Di sela-sela edisi tidak masuk kantor karena sakit dan akibat dari harmonisasi detik menit dan jam ke arah senja —vickynisasi syndrome, akhirnya saya memutuskan untuk mengobrak abrik isi harddisk agar bisa menemukan apa yang bisa saya kerjakan dengan blog sedikit dusty ini. Saking apiknya saya dengan file, ternyata file tahun 2009 masih bisa saya temukan! Gotcha! And anyway, ini adalah satu-satunya cerpen yang pernah mengantarkan saya kepada helm baru (maklum saat itu saya masih ababil, ikut-ikutan trend) yang harganya cukup untuk makan seminggu. Nyesel? Enggak. Karena saya sangat puas jika saya membeli sesuatu dengan uang sendiri, namanya juga masih SMA ya.

Well, enjoy!

Sore yang sejuk. Kuhempaskan pantatku di permukaan kursi lapuk murahan yang kudapatkan entah dari mana. Seperti layaknya nyonya-nyonya besar, dalam ritualnya sore hari—duduk di beranda rumah mereka yang besar bak istana, ditemani secangkir teh hijau pelangsing tubuh yang mahal—aku pun duduk manis melipat kaki seperti seorang yang berkelas. Mug besar yang sedang kupegang sebagai pengganti cangkir keramik impor, juga teh hijau langka bermerk yang berubah menjadi teh celup pasaran. Ketika nyonya-nyonya gedong itu bersantap cake manis berhias buah kiwi super lembut, di sebelahku terhidang keripik kentang nyaris gosong buatan sendiri. Tapi rasanya masih bisa kumaklumi, karena tak ada orang yang mau membantu mencicipinya.

Aku tersenyum sendiri, sembari memuji betapa pintarnya aku menyindir diri. Mungkin karena aku sering melihatnya dalam rangkaian cerita sinetron-sinetron di televisi, seorang nyonya pemeran utama melakukan kegiatan mewah sore hari. Seperti layaknya yang sedang kutiru saat ini. Beliau duduk di kursi empuk berlapis emas, melipat kaki gaya orang berkelas, berteman teh hijau langka bermerk lalu membawa buku berbahasa asing untuk dibaca, dengan tema yang biasa dibicarakan oleh segerombol golongan bangsawan ketika bertatap muka dalam sebuah acara senggang, namun resmi.

Ah, buku! Aku melupakan hal yang satu ini!

Setengah berlari aku masuk ruang baca, dan mengambil buku berjudul: Belajar Menulis.

Indah sekali.

Sebuah buku yang akan membuat nyonya-nyonya besar itu tergelak. Ketika membaca judulnya saja, mereka akan berkata bahwa buku itu lebih pantas untuk anaknya yang masih batita. Pikiranku beralih pada dimensi waktu menuju masa kanak-kanakku ketika aku meminta ayah mengajariku menulis sebuah kalimat. Belajar menulis. Hal yang kulakukan pertama kali ketika aku menginjakkan kaki di bangku Sekolah Dasar. Mulai menjamah berbagai jenis buku untuk kutulis kembali, dalam pikiranku. Bukan dalam secarik kertas, atau bahkan buku garis tiga. Aku menulis dengan pensil berupa ingatan, bukan pensil motif putri Cinderella yang biasa digunakan oleh teman-teman perempuan sebayaku kala itu. Aku tak bisa merengek-rengek untuk membeli benda-benda itu. Menyenangkan hati Ayah untuk menjadi seorang perempuan kecil yang patuh, kurasa sudah lebih dari cukup.

Beberapa tahun hidup bersama ayah, aku masih saja menulis menggunakan ingatan. Menulis sejumput kebahagiaan yang kutemukan di sela-sela kepahitan yang menderaku, menulis setiap senti keterpurukan yang membuatku semakin tegar. Aku terus belajar. Belajar menulis. Karena ayah tak pernah membelikanku buku garis tiga, juga pensil motif Cinderella. Aku tahu, keadaan ekonomi kami yang membuat seperti ini. Miskin. Cerita lama yang tak pernah usai. Aku menulis lagi. Dengan ingatan.

Hingga akhirnya, aku hidup sendiri.

Ayah tak pernah menginginkanku kembali. Tidak untuk saat menjadi putri kecil penurut, apalagi ketika aku berubah menjadi wanita mandiri. Ayah terlanjur membuangku, tanpa alasan yang jelas. Oh, tidak. Ayah sudah menikmati ritual sore ala bangsawan besar di kediamannya yang baru. Ia tak pernah menganggapku ada. Tak pernah sekalipun menanyakan kabar putri kecil penurut yang satu-satunya dimilikinya, saat itu. Tak pernah memberiku bekal sebuah peta menuju jalan pulang. Sebuah buku garis tiga dan pensil untuk menulis ucapan selamat tinggal. Aku dibuang begitu saja. Ketika ayah telah menemukan hidup barunya. Hidup rupawan layaknya bangsawan.

Aku ingat, bagaimana ayah menipuku dengan mengajakku ke taman bermain. Membelikanku gula-gula, mengajakku naik komidi putar, mengelilingi taman bermain hingga petang. Lalu, ayah pamit ke kamar kecil, dan tak pernah kembali. “Dimakan monster kloset barangkali,” kata seseorang yang menemukanku. Ia nampaknya mengutuk ayah habis-habisan. Aku tetap menjadi gadis patuh. Mengikuti siapapun yang aku temui. Aku bahkan tak menangis. Orang itu heran melihatku hanya diam ketika ia menanyakan identitasku.

“Boleh aku minta selembar buku garis tiga? Aku akan menulisnya di sana,” ucapku. Hanya sekali.

Aku menulis dengan senyum mengembang, walau hanya selembar buku garis tiga. Menulis apa yang aku ingat. Aku menulis dengan penuh nafsu. Menulis sebuah ucapan selamat tinggal.

Aku dititipkan di sebuah panti asuhan oleh orang itu. Ayah pasti tersenyum puas melihat aku menemukan tempat yang semestinya jadi rumahku. Tapi setidaknya aku beruntung. Tak ada satu hal kecil pun yang membuatku sakit lagi. Aku bebas, Ayah. Tanpamu!

Angin sore membuat daun-daun berguguran, lalu memutar di halaman. Hari beranjak petang, lampu merkuri di seberang jalan mulai memancarkan cahaya. Langit meremang, berubah menjadi biru kegelapan. Ritual sore dalam rangka menyindir diri usai sudah. Aku bergegas ke kamar mandi, dan mengakhiri nostalgia gila bersama lelaki yang bernama ayah. Malam ini aku ada temu janji, berburu buku bersama teman kerja. Itu memulihkan perasaanku.

***

Aku mengamati tumpukan buku. Ramainya pengunjung membuatku sedikit kesal. Buku-buku yang ditumpuk dalam sekeranjang besi besar bertuliskan diskon tiga puluh persen itu menarik perhatianku. Aku mulai berburu.

Entah kenapa mataku tertumbuk pada sebuah sosok yang tak asing buatku. Pria perlente bersama seorang wanita berkonde yang kilauan manik-manik pada kebaya agungnya menarik perhatian banyak orang. Aku tertawa kecil sejenak, ketika memperhatikan wanita yang dandanannya kurasa berlebihan itu. Mereka pemilik toko buku ini rupanya. Pantas saja. Semua karyawan berlomba-lomba merebut perhatian beliau-beliau itu. Aku memerhatikan ekspresi setiap pengunjung. Raut wajah pengunjung rata-rata menunjukkan kekesalan, karena sampai kasir pun meninggalkan tempat kerjanya hanya untuk merebut perhatian dari bos besar yang agaknya sedikit pamer wibawa. Dan ya, mereka, para karyawan terhipnotis. Seolah beliau-beliau itu pembawa tali kehidupan mereka. Tali itu ibarat hidup mereka. Bisa diputuskan kapan saja sang pemilik toko itu mau. Lalu hidup para karyawan, berakhir sudah.

Perkara yang tak mudah kumengerti adalah ketika aku menemukan sebuah kenyataan bahwa pria perlente bersama wanita berkonde itu mirip ayahku. Di luar nalar, memang. Sangat tidak masuk akal! Aku meyakinkan diri bahwa ayahku tidak mungkin memalukanku dengan menikahi wanita norak seperti itu. Tapi, kenyataan menang. Dengan bangga ia berpidato kecil di kerumunan pengunjung. Ia menyebut namanya, yang sama dengan nama ayahku, dengan sebuah nama keluarga besar di belakang nama lengkapnya.

“Anda bisa menikmati diskon ini sampai dua minggu ke depan dan Anda bisa bertanya langsung dengan saya,” ujarnya berkoar-koar.

Jadi ayah meninggalkanku karena wanita itu.

Aku berterimakasih pada ingatanku yang mampu menulis masa laluku dan mengubahnya menjadi sebuah kenyataan. Aku tersenyum.

Lalu aku menghampirinya, setelah pidatonya selesai. Bukan untuk membahas pidatonya tentang diskon buku, melainkan karena pidatonya tak membuatku tertarik sama sekali. Bukan juga untuk menanyakan buku impor terbaru dari negeri antah berantah untuk kebutuhan putra-putri barunya bersama wanita berkonde itu. Tapi aku ingin menyelesaikan semuanya. Aku ingin mengakhirinya. Sebuah ucapan selamat tinggalku yang tertunda.

“Anda ingat saya, Bapak Wayan?” tanyaku sembari menyunggingkan senyum termanis yang pernah kupunya. Sekali lagi, terakhir kali.

“Maaf, Anda siapa?” ia balik bertanya. Terlalu! Ayah bahkan melupakanku!

Wajar ayah tak mengingatku. Aku berubah banyak. Tak lagi menulis dalam pikiran, menggunakan pensil berupa ingatan. Aku mampu membeli buku garis tiga sebanyak yang aku mau. Juga pensil bermotif putri cantik yang diidamkan oleh banyak anak perempuan itu.

Dengan setengah berbisik aku menjawab,”Aku, yang meminta sebuah buku garis tiga padamu. Yang kau tinggalkan di taman bermain. Aku baik-baik saja, Ayah. Aku hanya ingin mengucapkan selamat tinggalku yang tertunda. Apa penjaga taman bermain tidak menyampaikan hal itu padamu?”

Pria itu menatapku tak percaya. “Apa yang kau minta dariku sekarang?”

Aku terhenyak. Aku tak menyangka kalau jawaban konyol itu yang kuperoleh dari orang yang selama ini aku banggakan pada teman-temanku sejak sebelum aku dibuang di taman bermain! Rasa gengsi itu ternyata sudah menjadi teman sejati ayah. Ia kira, aku akan meminta separuh hartanya, seperti cerita sinetron dengan konflik monotonnya; berebut harta!

“Aku ingin menulis tentangmu, Ayah. Dalam ingatanku! Menulis sebuah takdir! Bahwa mulai saat ini, bahkan sejak kau dimakan monster kloset, kau bukan ayahku. Selamat tinggal.”

Pensil ingatan itu berfungsi kembali. Untuk menulis takdir.