Aduh, ini sebenarnya cerita sudah lama sekali. Alasannya selalu baru sempat nulis, eww. Padahal waktu luang melimpah, tapi karena keinginan melakukan kegiatan lain yang oh my god banyaknya, saya jadi memanfaatkan waktu senggang dengan tiduran dan baca buku gratis di aplikasi Bookmate

Well, tanggal 10 Desember 2016 lalu merupakan hari ulang tahun seorang guru di tempat belajar bahasa Korea saya, Ibu Oh. Pagi-pagi sekali saya dan adik seperjuangan di kursus bahasa korea merencanakan untuk datang ke tempat les dan membuat kejutan. Ketika saya mengirimkan pesan via Kakao Talk,  beliau malah ngajakin kami ketemu dan makan di restaurant Korea milik kenalannya karena beliau sedang libur ngajar (waktu itu hari Sabtu). Pukul 5 sore tepat, kami tiba. Tentunya setelah menyiapkan hadiah ulang tahun. Ah, so excited!

The presents. Baby’s breath is her favorite!

Dari lokasi tempat les, kami bertiga meluncur ke arah pusat wisata Sanur. Wilayah Sanur yang padat turis (dan pekerja lokal) membuat kendaraan kami sedikit tersendat karena sore menjelang petang memang jamnya orang hilir mudik dari dan ke arah pantai, karyawan pulang kerja, atau wisatawan cari makan dan hiburan. Melintasi Jalan Danau Tamblingan, kami kemudian berhenti di seberang outlet Gelato sekaligus restaurant Italia terkenal di Sanur, Massimo Restaurant. Di seberang ya, bukan tepat di depan restaurant Massimo-nya, karena kami kan memang rencananya menikmati makanan Korea. 😀

Ibu Han, pemilik tempat makan bernama Yimo Restaurant ini, menyambut kami dengan ramah. Begitu tahu Ibu Oh sedang berulang tahun, mereka berdua malah langsung cas-cis-cus menggunakan bahasa asli mereka hingga anaknya pun ikut nimbrung, sementara kami menyiapkan surprise kue dan sebuket bunga Baby’s breath.

Saengil chukkahaeyo seonsaengnim! — 생일 축하해요 선생님!

Yak, tibalah saatnya kami memesan. Menu paling wajib bagi kami bertiga kalau lagi di resto Korea adalah Samgyeopsal, lengkap dengan side dish-nya. Ciri khas kalau lagi makan Samgyeopsal disini adalah, kami dapat memasak daging lengkap dengan telur dadar dalam satu pan! Jadi nggak hanya daging, satu menu Samgyeopsal sudah termasuk telur dadar yang bisa dimasak bersamaan. Sayangnya kami nggak minum Soju, dilarang Ibu Oh, hehehe.

Restaurant yang tergolong baru ini enggak mahal-mahal amat, kok. Seporsi Samgyeopsal dibandrol dengan harga 70ribuan ++ (porsinya besar, bisa untuk tiga orang!). Menu lain bisa dicicipi mulai dari kisaran harga 35 ribu rupiah saja. Mulai dari Kimbap hingga Ramyeon, bisa disantap dengan lahap beramai-ramai.

Kalau makan di resto Korea, side dishes-nya memang juara~

Setiap tempat makan Korea yang saya kunjungi mempunyai Banchan (side dish) yang berbeda-beda, dan yang saya temukan disini menarik adalah menu Korean Sweet Black Beans (Kongjaban – 콩자반). Rasanya manis dan agak sedikit asam dan ukuran kacang hitam ini sedikit lebih besar dibandingkan dengan kacang hitam yang biasa saya pakai sayur di Indonesia.

Source: Google; Nggak sempat foto karena abis duluan! LOL

Anyway, soal interior, ada hal unik yang saya temukan disini, yaitu beberapa boneka sejenis Barbie namun memakai Hanbok, cantik sekali. Hiasan-hiasan dinding khas Korea juga memperkuat kesan bahwa restaurant ini memang menyajikan hidangan utama khas negeri Ginseng tersebut.

 

Last but not least, saya dan si Bawang Merah (LOL) sempat berfoto dengan pemilik Yimo.

Berfoto bersama Ibu Han (kiri), Yimo’s owner.

Bagi pecinta K-Pop atau K-Food, wajib coba menu-menu asyik di Yimo Korean Restaurant ini. Abis makan, bisa langsung nyebrang deh nyicipin Gelato di restaurant Italia tetangga 

그럼 맛있게 드세요~

Thank you for reading, fellas!
Lots of love,