“Udara siang ini kenapa dingin sekali ya?” Eta menyela di sela-sela riuhnya suasana kelompok pecinta alam yang baru tiba di jalan setapak. Beberapa kilometer lagi mendaki, tibalah mereka di gunung tujuan mereka, Alam Siwi. Suhu udara yang dingin membuat mereka enggan melepas jaket tebalnya. Tali sepatu mereka kencangkan, lalu bergegas menuju rombongan lainnya untuk menerima pegarahan.Aku tertawa dalam hati mendengar ucapan Eta. Kurasa, beberapa orang yang berada di dekat Eta tak mau ambil pusing menanggapi. Mereka hanya terbius oleh obsesi mereka menaklukkan puncak gunung Alam Siwi itu. Sekaligus membuktikan bahwa kelompok pecinta alam ini memang orang-orang yang mampu menerima tantangan sang alam untuk menaklukannya. Begitu berhasil, segala seru-seruan kemenangan diarak dari mulut ke mulut, dari orang yang satu ke lainnya.

“Ini pegunungan, Et. Ya jelas saja dingin. Berapa lama, sih, kau melakukan penjajakan dengan alam pegunungan? Ayo, bantu kami beres-beres. Cepat! Terlalu berbahaya jika berangkat saat petang hari!” ceramah dari ketua kelompok membuat cair suasana karena ucapannya yang membuat hati sedikit panas.

“Memangnya aku mau menikah sama alam? Pakai penjajakan segala,” dengus Eta kesal.

Gerutuan Eta tak mendapat banyak tanggapan lanjutan. Sekejap, mereka sudah memboyong perlengkapan mereka sendiri untuk berkemah di lereng gunung. Jelas saja, setiap merangkak beberapa meter mendaki, suhu semakin menggigit sekujur tubuh. Berbagai jenis busana penghangat membalut setiap pendaki. Lalu aku mengamati keadaan sekeliling dengan menyusun banyak deskripsi tentang setiap meter tempat yang baru ku jejaki. Sangat menawan. Aroma cemara membuatku terpejam sejenak untuk meresapkan sepercik ketenangan. Aku menghela nafas dalam-dalam. Di setiap batang cemara diselimuti lumut tanduk. Pada sela-sela pohon cemara itu, ada banyak sekali kawanan paku tiang yang menjulang tinggi, sulurnya menjuntai hingga ke bawah. Aku ternganga takjub. Hijau gelap yang sangat sempurna. Jalan setapak lembab dan basah. Aku jatuh cinta pada cemara itu.

“Itu cemara Norfolk. Cemara import favoritku. Kau tahu, nama ilmiahnya keren; Araucaria heteropylla (Salisb.) Franco. Buah cemara itu sangat bagus sekali bentuknya. Sayang terlalu tinggi. Buahnya tak pernah jatuh, jadi kalau mau ambil satu untuk koleksi, kau harus memanjat,” kata Rani, teman sejawatku yang mengerti benar tentang tumbuhan raksasa liar. Ia terdengar sedikit bergurau. Rupanya buku ensiklopedi yang sering dibawanya membawa keuntungan tersendiri bagiku. Seperti sekarang, ia memperlihatkan ensiklopedi setebal kamus bahasa Inggris ketika aku berada di zaman sekolah menengah dengan saksama. Gambar buah cemara kipas itu memang benar-benar membuatku berdecak kagum sekali lagi. Seakan dapat membaca fikiranku, ia berkata santai,”Aku melihatmu begitu takjub dengan hutan ini. Lalu aku tawarkan untuk memberi informasi.” Nada bicaranya sama sekali tidak menyiratkan bahwa ia sedang pamer ilmu. Ia memang pribadi yang pendiam, dan hanya tertarik jika ada orang yang terpusat perhatiannya pada apa yang ia suka.

“Boleh ku pinjam? Kau salah, aku tidak perlu memanjat pohon cemara itu hanya untuk mengoleksi buahnya. Tahu dari buku saja sudah cukup.” Kataku datar. Dalam hidupku selama ini, aku memang tak terlalu ingin bernegosiasi terlalu lama dengan orang-orang sekitar, karena cenderung introvert. Aku hanya mencari ketenangan dari kesenangan mengikuti acara pendakian oleh klub ini. Ketika malam hari disambut antusias oleh sebagian anggota karena ada acara hiburan api unggun, aku memilih mengurung diri di tenda sembari menyesap secangkir kopi untuk menghilangkan kantuk. Aku memang dijuluki wanita aneh. Namun aku tak pernah ambil pusing apapun kata mereka. Hanya ku tanggapi dengan senyuman dingin.

Aku terus berjalan sambil sesekali melayangkan pandangan ke arah cemara yang jaraknya mulai menjauh. Sudah tak tampak lagi batang kokohnya yang menjulang tinggi, dengan daunnya yang menyirip tipis. Fisik pohon yang mencengkram tanah dengan erat, mengesankan seolah mereka adalah penguasa wilayah ini. Aku diburu kekaguman tak terperi. Oleh hamparan pohon kokoh sang cemara.

pine

***

Malam mulai beranjak larut. Api unggun mulai menempati singgasananya. Aku memutuskan untuk tetap diam di tenda, sampai mereka selesai. Buku ensiklopedia itu menarik diriku untuk membacanya, tentang cemara yang berhasil membuatku terkagum-kagum. Terdengar riuh tawa dari luar tenda. Hiburan yang menyenangkan, menurut mereka. Namun tidak bagiku.

Ah, cemara.

Wangi cemara itu masih terasa hingga ke sudut tenda. Aku memejamkan mata, mulai mengimajinasikan rupa sang cemara yang telah membuat saya jatuh cinta setengah mati.

Lamunan itu dibuyarkan oleh sesosok bayangan di luar tenda.

“Siapa?” tanyaku cepat. Ia masih tak bergeming. Aku mulai memperhatikan sosok yang samar-samar terbias remang cahaya bulan. Aku tak begitu takut, karena aku tahu ia seorang perempuan, dari rambut panjangnya. Dibawanya pula benda berbentuk kotak. Agaknya itu sebuah buku.

“Rani?”

Sosok itu tertawa pelan di balik tenda dan menyusup masuk. “Kenapa kau bisa mengenaliku?”

“Siapa lagi makhluk berambut panjang yang membawa buku setebal kardus makanan?” sahutku bergurau.

“Ah, kau ini hiperbolis sekali. Omong-omong makanan, apa disini ada? Aku lapar. Semua makanan dibawa ke acara tak penting itu.”

Ia sedikit kesal. Oh, aku hanya bergurau, bukan? Mendadak aku sedikit meringis iba. Jarang ada wanita blak-blakan mengaku lapar seperti kutu buku yang satu ini.

Aku hanya mengangguk dan menunjuk benda yang ia perlu. Ia berterimakasih sekenanya. Lalu pembicaraan mengalir kembali. Esok pagi ia akan mengajakku ke hamparan hutan cemara dan memberikanku sebuah kejutan.

Oh, tumben sekali ada yang mau berbaik hati padaku, pikirku.

Dimulailah cerita pertemanan yang sedikit ganjil, dengan topik awal cemara.

***

Rani menepati janjinya. Dengan ransel yang penuh dengan buku, ia menungguku di depan tenda. Lalu meminta izin pada ketua untuk mengantarku bepergian dekat sini. Aku heran, ia berdalih untuk mengajakku pergi.

“Baik, Diana, Rani, kembali sebelum pukul 8,” kata ketua setelah kami mendapat izin.

Kami menyusuri hutan yang sejauh mata memandang hanya terhampar cemara di kanan kiri jalan. Di sebuah pohon cemara besar ia terhenti. Perasaanku tidak enak.

“Aku hanya ingin mengatakan padamu bahwa aku menyukaimu, Diana.”

Aku ternganga.

Spontan ku jawab,”Kau gila! Aku tidak abnormal sepertimu! Maaf saja, aku tak pernah bisa, Rani.”

Kami berdiri mematung. Membisu. Dinginnya suhu pegunungan menggigit kami. Kutatap Rani yang begitu kecewa, namun raut wajahnya tetap datar.

“Tidak apa. Mari kita kembali ke tenda,” ujarnya.

Aku hanya mengangguk. Menikmati pemandangan cemara dan merasakan pengalaman yang tak biasa yang baru saja ku alami. Rani berjalan santai di belakangku. Menyusupkan tangan di saku jaket tebalnya.

Sesuatu menembus rusuk belakangku. Darah mengucur deras.

Rani menyeringai.

“Aku membencimu, kau orang terbodoh yang pernah aku temui, Diana. Kenapa kau menolakku, huh? Merasa menjadi orang paling normal, begitu?” bentaknya. Suaranya memecah hutan.

Mataku berkunang. Aku tak mampu melawan dengan sepatah katapun. Aku disambut maut di depan mata. Ah, dia psikopat!

Rani mendorongku hingga aku terjerembab ke salah satu pohon cemara yang berdiri kokoh. “Lebih baik kau membusuk di sini bersama cemara kesayanganmu itu!” teriaknya sambil lalu.

Cemara di hadapanku seolah menjadi saksi penjemputan ajalku yang datang perlahan. Cemara ini menemaniku terlelap di keabadian.

— Kintamani, 7 Juni 2009.

Lots of love,