Judulnya memang Cerita, saya buat pada tahun 2009. Saya tanpa sengaja menemukan cerita pendek ini terselip diantara sedemikian juta kilobyte isi laptop dari tahun 2008. Dan beruntungnya, saya pernah membuat ini sebagai salah satu catatan kelulusan SMA. Ini sudah 2015, dan artinya masih ada 4 tahun lagi untuk kami bertemu dan menceritakan perjalanan 10 tahun ke belakang 🙂

Adalah sebuah keberuntungan ketika aku menginjakkan kaki di tempat ini. Tempat yang penuh dengan aroma persaingan yang begitu diidam-idamkan orang cerdas, yang ingin mengadu nalar. Membuktikan bahwa pribadi yang terpikat pada tempat ini adalah seorang individu yang cerdas. Tujuanku jelas, belajar. Karena dari petuah orang tua dan lingkungan sekitar, tempat itu membuatku punya masa depan. Aku layaknya imigran yang terdampar di sebuah pulau di mana penghuninya berotak setengah Enstein. Semula aku selalu bergidik ngeri ketika aku membayangkan aku akan berjuang menahan kantuk saat pelajaran Fisika, atau mencoret-coret buku catatan Matematika dengan cerita-cerita baru. Kenyataannya memang benar. Entah itu menjadi sebuah keberuntungan yang berawal baik, atau bisa jadi berujung indah, ternyata tiga tahun melelahkan itu membuatku rindu pada sebuah cerita. Saat semua kengerianku mulai terhapuskan, dan keberuntunganku tentang menemukan orang-orang hebat seperti mereka.

Aku mendongak ke atas, menyaksikan awan yang bergumul dengan siluet matahari senja. Sehelai kelopak bunga berwarna ungu jatuh memutar tertiup angin.

Cerita itu menarik dimensi waktu yang telah sekian lama teralihkan oleh rutinitas membosankan. Cerita yang bertutur tentang segalanya. Segala hal yang menjadi kepenatan, kegembiraan, ketakutan, kesedihan, juga segala hal yang mampu membuat setiap orang yang duduk di sekelilingnya punya cerita. Tanpa terkecuali. Tidak laki-laki, atau perempuan. Tidak mereka, tidak juga aku. Semua bercerita. Segala keluh kesah, canda tawa, pedihnya tangis, cerita itu tertuang tanpa mengkonfirmasikannya dulu dengan waktu. Tidak saat jam istirahat, saat pelajaran kosong, tidak juga saat mencuri-curi waktu sebelum pelajaran dimulai.

Tempat itu menjadi sebuah simbiosa bagi aku dan mereka, pecinta cerita picisan sesama kawan. Cerita cinta, persahabatan, luapan kekesalan, kritik dan puji bagi sang pembagi ilmu, kebanggaan akan sebuah prestasi, hasil ulangan, ribut-ribut tak penting, dan sebuah rencana masa depan. Semuanya. Lagi-lagi, tanpa terkecuali.

Aku selalu mengambil potret tempat itu, dengan ingatanku. Manakala dedaunan bertaruh dengan angin, lalu menyerah, dan menjatuhkan dirinya sendiri, adalah hal yang paling memikat untuk dibayangkan lagi. Kata mereka, daun-daun dari pohon di tempat itu, saat meranggas dan melayang di atas kolam, seperti layaknya dedaunan pohon Mapple yang jatuh teruntai satu per satu di musim gugur. Ditambah lagi embel-embel khayalan menggelikan tentang berkencan dengan idola mereka, mulai dari penyanyi-penyanyi tampan, wanita Jepang yang kontroversial, sampai si metroseksual pemain drama Asia. Saat pelajaran berubah menjadi membosankan, aku melirik ke luar jendela, menikmati pemandangan menawan kala helai bunga itu  melayang tertiup angin.

Di tempat yang biasa kusebut meja bundar, aku, juga mereka, mengulang semua cerita. Cerita, dan cerita. Telepon genggam setiap orang penuh dengan cerita. Cerita-cerita itu adalah sebuah cerita buta bergambar. Aku menyebutnya begitu karena mereka yang berotak setengah Enstein itu pernah memelajari peta buta. Peta yang letaknya tidak diketahui karena anonim. Demikian halnya dengan cerita buta bergambar, karena cerita itu hanya tergambar, tidak ada tulisan yang tersurat. Sebab kami tahu setiap alur cerita itu. Bukan hanya cerita tentang diriku, atau diri mereka. Tapi, tentang sebuah cerita yang disebut kami. Sebuah kebersamaan.

“Sebentar lagi, ujian. Terus kalau lulus, kita pisah ya?”

Sampailah cerita itu pada sebuah konflik.

Pertanyaan itu adalah sebuah pertanyaan yang sampai saat ini selalu kami jawab paling akhir. Memang, hal itu tidak akan pernah mubazir, meski kami menganggap pertanyaan itu tidak ada gunanya, namun memang tidak bisa dipungkiri bahwa kenyataan akan perpisahan itu benar adanya.

Pohon itu meredam dan merekam semua cerita, seperti pita kaset yang suatu saat nanti bisa diputar kembali. Mengulas kembali kisah si gadis latah, menghargai kembali sang pendiri komunitas penampung cerita-cerita kami, mempelajari kejayaan sang master matematika, mengubah perangai otak pasirnya sang ketua OSIS, gadis keju tempat berbagi cerita ada dan tiada, tungku api yang unik, lelaki-lelaki asbun yang kocak, makhluk hitam manis si peka nada, tuan pesulap yang tak pernah lepas dari kartu, kehebohan dari laki-laki bersuara cempreng, lalu si putri Solo dan gadis berpulas kosmetik yang selalu cantik setiap saat. Kekhasan mereka selalu tergurat rapi oleh setiap serpih cerita buta bergambar. Baik di telepon genggam, atau di tempat itu. Masing-masing meninggalkan nama, yang tidak akan pernah lepas dari setiap ingatan seseorang. Tidak mereka, tidak juga aku.

Pohon itu berayun pelan tertiup angin. Secara kasat mata, cerita itu usai sudah. Tetapi, masih ada babak baru dalam cerita-cerita yang belum terselesaikan. Cerita dari masing-masing anggota meja bundar, yang suatu saat nanti akan diputar kembali saat aku dan mereka duduk manis di tempat itu.

Kelopak bunga berwarna ungu kelima menyentuh tanah. Aku beranjak untuk bergulat kembali dengan rutinitasku. Rangkaian cerita putih abu-abu itu akan terulang kembali, saat aku dan makhluk berotak setengah Enstein itu menyuarakan kesuksesan. 10 tahun mendatang. Kita lihat saja.

SMAN 2 Amlapura – XI/XII A1, 2009.

P.S: Saya baru tahu nama pohon berbunga ungu di cerita saya itu baru-baru ini. Namanya Bungur (Lagerstroemia). Duh, setelah sekian lama yaa.. hihihi.

 

Thank you for reading, fellas!
Lots of love,