Have I found you?
Flightless bird, jealous, weeping
Or lost you?

Iron & Wine mengalun dari sudut coffee shop yang baru ku masuki. Terdengar lamat-lamat, berbaur dengan riuh rendah suara pemburu kafein di sela jam istirahat makan siang. Ramai dan penuh, meski cuaca kontras di luaran bersanding dengan manis. Hiruk pikuk bagian utara metropolitan tergambar jelas hingga ke setiap sudut pusat perbelanjaan dengan beberapa puluh merek impor kenamaan di dalamnya.

Seseorang menarik tanganku. “Ayo, Agni,” suaranya begitu jelas diantara keramaian. Satu tangannya menggeret koper tembaga berukuran sedang, milikku. Seolah tak mau aku tersesat seperti anak kecil, ia menuntunku untuk duduk di salah satu meja yang berada di sudut dengan dua kursi menghadap jendela berukuran dinding. Ia menjejalkan koperku tak sabar karena space di bawah meja sedikit sempit.

“Aku tidak pernah kesini sebelumnya, ternyata tempatnya tidak terlalu nyaman… Maaf.” gerutuannya pelan namun cukup jelas terdengar. Ia kemudian menatapku sambil meringis. Aku tersenyum, “Tidak apa-apa. Lagipula hanya sebentar saja. Ini juga dekat dari bandara dan aku hanya perlu menunggu satu jam saja, jadi tidak masalah.”

Hmm.. bandara. Dan aku lupa kalau satu jam dari sekarang —tepatnya seratus dua puluh delapan menit lagi— pasti akan terasa sangat mencekik. Aku akan menjejaki pulauku sebentar lagi. Bukannya aku tidak cinta pada rumah, pun juga aku menaruh rasa pada kota yang baru kukenal selama beberapa hari belakangan ini. Aku hanya tidak mau meratapi keadaan kalau aku dan lelaki ini akan segera terpisah lagi, oleh jarak. Hubungan kami memang baru terhitung tujuh puluh empat hari—terbilang sangat singkat, dan delapan puluh sembilan persen waktu yang kuhabiskan bersama dia hanya lewat suara. Aku bahkan tak bisa membayangkan godaan macam apa yang akan ia lewati di kota yang dua puluh empat jam nonstop menyediakan sandiwara serba paha ada.

“Agni?” Ia menepuk pundakku pelan, lalu memberi kode bahwa ia akan memesan. “Ah ya, maaf. Satu caramel macchiato ya, terima kasih.”

Ia tergelak.

“Kita baru selesai makan siang tapi kamu pesan kopi panas dan manis? Hati-hati diabetes,” nada bercandanya mau tak mau membuatku tersenyum sekilas.

“Suasana hatiku sedang tidak baik. Sesuatu yang manis akan sangat membantu, kurasa.” Ia hanya tersenyum kemudian berbalik, berlalu tanpa menimpali omongan terakhirku.

Sepuluh menit menunggu. Bulir gerimis kini menyentuh tanah di balik jendela raksasa, hinggap melahap pikiran, membawanya berkeliaran. Awan hitam menggelayut memayungi sendu; perpaduan sedih, takut, dan tak mau kehilangan. Niatan besar untuk mencoba ikhlas, namun enggan melepaskan. Firasatku kali ini rasanya memang membutakan.

Satu cup berwarna cokelat bertuliskan Agni dengan emotikon senyum membuyarkan lamunan. Aroma cinnamon menguar dari sepotong chocolate cake yang terhidang di meja. Ia membetulkan duduk, lalu tersenyum. Oh, kalau yang ini, jika saja tingkat keparahan diabetes diukur dalam rentang skala satu sampai sepuluh, aku berani bertaruh dia sudah memberi andil sembilan puluh sembilan persen untuk menuju angka sepuluh; dengan senyumnya. “Jangan melamun terus, nanti ayam tetangga mati. Makanlah yang banyak, tapi perlahan.

Entah darimana dia mendengar jargon ayam tetangga mati itu. Mungkin karena pengaruh ‘teman-teman Indonesia’-nya yang membuat ilmu idiom dalam negeri meningkat tajam. Aku hanya pura-pura tertawa dengan perasaan sedih yang tertahan. Mana bisa tertawa di tengah kalut begini?

Sepuluh menit yang bising, tapi kami diam.

“Tinggallah di Jakarta”, serunya pelan, mengagetkan.

Aku terdiam sejenak namun tanganku tak bisa berhenti memainkan pinggiran gelas plastik PET di depanku. Gelisah mendengar tawaran menggiurkan itu. Tetapi aku punya hidup dan pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, sayang sekali.

“Aku tahu kamu tidak bisa, jadi sudahlah, aku tidak menahanmu”. Lagi-lagi tersenyum. Ia seperti hafal apa yang aku pikirkan.

Ia melirik jam. Aku tahu sudah tiga puluh menit berlalu, tapi tanpa basa-basi ia lalu mengangkat bokong lalu menggeret koperku lagi menuju pintu. Aku mengikutinya dengan helaan nafas berat. Perjalanan ke bandara pun kami tak berbicara banyak. Rasanya aku seperti diputus pacar karena aku tak bisa tinggal. Ah, menyebalkan! Pikiranku melantur dengan liarnya.

“Teleponlah aku ketika sudah sampai. Hari ini aku ada meeting jadi bisa hubungi aku setelah jam 9 malam,” ujarnya ketika taksi berhenti di depan bandara. Aku mengiyakan dengan lesu.

“Hati-hati ya!” Ia berbicara lagi, namun aku melambai tanpa bersuara.

Kami berpisah tepat pukul 16.23. Menyeret langkah adalah hal paling benar yang kulakukan saat ini. Entah kenapa, aku ingin berbalik dan melihat ia menungguku disana untuk melihatku berbalik sekali lagi. Pikiran klise ala drama, kan? Lucu sekali.

Namun yang kulihat bukan ia yang menungguku berbalik. Ia menghampiri seseorang dengan setelan blouse bunga anggun dengan rok selutut dan kereta bayi. Ia mencium kening si perempuan itu penuh sayang dan mengecup bibirnya sekilas. Siapapun yang lewat di sekitarnya tahu bahwa mereka bukan dua orang yang sekedar bertemu di jalan dan berciuman satu sama lain.

Aku mematung.

Tinggallah di Jakarta.
Tinggallah di Jakarta.
Tinggallah di Jakarta.

Apa otaknya terprogram default template untuk mengajak tinggal, lalu mengatakan aku tidak menahanmu di saat yang bersamaan? Aku harus memberi outstanding applause untuk manusia absurd yang satu ini.

-Jkt. 150315
Lots of love,