Aku melihat gadis kecil sedang menari riang di sebuah pematang sawah yang kering kerontang, seakan kekeringan itu merupakan sebuah kutukan yang entah kapan akan binasa. Aku menjinjing ranselku menyusuri pematang, dan menyaksikan gadis itu meliuk-liukan tubuhnya dengan muka penuh harapan. Beberapa gadis-gadis kecil yang seusianya datang mengikuti dengan mengenakan selendang bermacam warna.

Terik matahari semakin menegaskan kekuatan sinarnya yang membakar kulit. Kegerahan amat terasa di setiap mikrometer sinar yang dipancarkannya. Aku mendatangi gadis itu perlahan dengan raut wajah teramat heran. Di sela-sela gerakan indah tubuhnya sempat terdengar nyanyian,”Awan hitam datang padaku, aku ingin kau hadiahkan hujan padaku…”

Ingin sekali aku tertawa. Tidak akan mungkin segumpal awan hitam pembawa hujan itu akan datang tanpa ada tanda-tanda yang jelas, juga karena panggilan gadis itu. Anak itu memalingkan wajahnya dan menatapku penuh selidik. “Jangan hanya karena Anda seorang kota yang bisa menertawakan ritual kami seenaknya, ya!” katanya tajam. Aku yakin anak ini tak pernah mengenalku sejak kepergianku dari desa ini beberapa tahun yang lalu. Desa yang kala itu masih kaya akan air, pepohonan yang rimbun di setiap jengkal tanah, dan sawah subur yang terhampar luas berhektar-hektar. Aku seakan kembali ke masa sebelum manusia ada. Gersang, kering, panas. Semak belukar menjadi penghias utama. Juga hanya ada aku, dan tentunya bersama gadis kecil yang sedang mengintrogasiku saat ini. Ia tetap melanjutkan tariannya. Sayup-sayup, kata-kata yang ku dengar tadi didendangkannya kembali.

***

“Ada orang kota yang mengambil alih hutan yang di selatan itu, Nduk. Kalau ndak salah PT Jaya Abadi. Katanya mau dibuat hotel. Tapi emak ndak tahu yang bener itu gimana. Hutannya digunduli, sampai sekarang proyeknya ndak jadi-jadi. Nah, sekarang itu lahan sudah ndak bisa diapa-apain lagi. Desa kita kering. Dasar orang kota! Seenak dengkul sendiri! Nggak peduli sama orang susah macam kita ya, Nduk.” Cerita ibu membuatku terhenyak. Mata yang penuh kantuk ini membuatku terjaga seketika begitu mendengar berita mengejutkan itu. Jujur, lelah sekali rasanya melewati perjalanan panjang untuk kembali ke desa ini. Untuk liburan panjangku, libur dari kehiruk-pikukan tempat tinggal dan tempat kerja yang menjadi santapan setiap hari, sejak aku ditobatkan menjadi seorang wanita dewasa. Wanita yang berusaha keras membuat Ibuku bangga. Belajar bertanggung jawab untuk membalas jasa-jasanya. Sekarang, ketika aku kembali, berita ini membuatku begitu ternganga sesaat.

“Ngapain aja mereka, Bu?” tanyaku penasaran.

“Ibu ndak begitu tahu persis, karena mereka berhubungan langsung sama Pak Kades. Katanya mau buat lahan untuk pabrik tekstil, biar desa kita ndak susah jual benang sutra ke kota. Pohon-pohon ditebang semua. Kayunya mereka jual, uangnya dibagi rata sama Pak Kades. Bah, tega benar mereka. Sekarang ulat sutra jarang ditemukan lagi, Nduk. Kecuali yang punya ternaknya sendiri. Nah, kalau seperti Ibu, mau dapat darimana?” jelas Ibu panjang lebar. Matanya menyiratkan kekecewaan yang amat dalam, tapi ia tak tahu harus bagaimana. Aku iba. Lalu aku mengeluarkan amplop cokelat hasil kerja kerasku bekerja.

“Semoga cukup untuk beberapa bulan, Bu,” kataku.

Ibu menitikkan air mata. Ah, lega sekali rasanya bisa membantu orang tuaku setelah sekian lama Beliau merawatku dengan tulus. Jabatanku sekarang ini memang membuatku bisa membantu Ibu secara materiil, lebih dari cukup. Ibu berkeras ingin tinggal di desa ini, jadi aku hanya bisa menjenguknya dalam waktu yang tak menentu, tergantung kapan aku bisa mendapat libur panjang. Tak lama kemudian, aku mohon diri untuk menenangkan fikiranku dan masuk ke kamar.

***

Berita itu masih saja menghantui fikiranku. Aku menenangkan diri dengan berjalan melewati gundukan tanah kering tempat anak-anak bermain. Mendesah. Aku kini dihadapkan dengan dua pilihan. Ya, pilihan-pilihan yang harus aku pilih salah satu sebagai sebuah keputusan.

“Anda wanita yang kemarin?” tanya gadis kecil yang aku temui di pematang sawah. Ia membawa sebakul sayuran jalar yang masih bisa hidup di daerah ini. Bakul itu diturunkannya, lalu ia berjalan menuju ke arahku.

“Maafkan saya atas tindakan saya kemarin. Saya kira Anda salah satu dari orang kota kejam yang telah merusak desa kami,” katanya. Sorot matanya penuh dengan kekecewaan.

“Panggil saja saya Andini,” kataku mencoba ramah. Dia mungkin baru mengenaliku dari orang sekitar. Gadis itu menyebut dirinya Ratih.

Cerita kekecewaan mengalir dari bibir mungilnya. Mulai dari penebangan besar-besaran, kekagumannya pada alat-alat berat milik PT Jaya Abadi yang ujung-ujungnya membuat gadis kecil itu memaki, lalu ritualnya untuk memanggil hujan karena setahun belakangan tak pernah sekalipun setetes air jatuh di tanah desa ini. Aku mendengarkan beberapa fakta yang membuat mulutku menganga lebar untuk kedua kalinya.

“Darimana kau mendapat ritual pemanggil hujan itu?” tanyaku.

“Saya pernah membaca dongeng yang serupa dengan cerita desa kami. Lalu kami mencobanya, sampai hujan itu datang. Harus datang! Kalau tidak, kami bisa mati kekeringan,” jawabnya menggebu, namun lirih.

Hatiku miris mendengarnya. Gadis itu tidak bisa disalahkan hanya karena sebuah dongeng. Tak berapa lama, gadis itu pamit untuk menjalankan ritualnya, menari di tengah pematang sawah, di bawah sinar matahari yang terik menggila. Aku mengamatinya dari bilik di sebuah kubu dekat tempatnya menari, lalu menulis sebuah surat. Gadis itu masih menari, tentu saja wajah riangnya itu hanya sebuah kamuflase. Karena aku tahu bagaimana sesungguhnya perasaan menyesakkan yang ada dalam hatinya.

Aku bisa merasakan panas itu.

Cukup sudah!

“Awan hitam datang padaku, aku ingin kau hadiahkan hujan padaku…”

Air mataku mengalir.

***

Rutinitas lamaku kembali. Aku pulang ke kota untuk menyelesaikan semuanya. Aku muak dengan cerita kekeringan di desaku yang membuat seorang gadis kecil menjadi korban dongeng. Menari untuk mengundang hujan datang. Tak masuk akal! Semuanya sama sekali di luar nalar.

Aku datang ke tempat kerjaku. Membawa sepucuk surat pengunduran diri. Jabatan yang selama ini aku banggakan hilang sudah. Aku berdebat dengan atasanku dan meminta pertanggungjawaban atas semua yang telah dilakukannya pada desa kecilku.

“Apa yang kau bisa lakukan, pahlawan kesiangan? Mengundurkan diri demi desa yang kuno seperti itu? Ingat, perusahaan kita mencari untung sebanyak-banyaknya, kau tahu?” ucapnya sinis.

Aku muntab. “Bapak boleh bilang desa saya itu kuno, tapi orang yang tidak pernah bertanggung jawab atas perbuatannya itu yang lebih memalukan!” bentakku.

“Baik. Berapa rupiah yang kau butuhkan, hah? Cepatlah. Aku tak ingin beradu mulut denganmu lama-lama. Ku beri kau uang ini, dan pergilah. Dengan senang hati aku menerima surat pengunduran dirimu,” katanya santai dan melempar amplop berisikan uang yang jumlahnya tak sebanding dengan kekecewaan warga desaku. Ternyata selama ini aku salah tempat bekerja. Bodoh!

“Saya tak perlu uang ini. Saya akan melaporkan Bapak karena telah menjadi otak dari ilegal logging di desa kami! Permisi.” Aku membanting pintu dan mengakhiri semuanya.

Setelah urusan itu, aku kembali. Aku tak ingin lagi tinggal dalam hiruk pikuknya kota, ditambah lagi orang-orang munafik yang hanya menginginkan harta ketimbang kelestarian alam. Aku berlari ke pematang sawah dan menghampiri gadis kecil pemanggil hujan.

“Siap menari lagi? Aku akan menemanimu,” tawarku. Angin kering berhembus menemani kami menari.