Saya melewati fase chatty Saturday setelah berbincang bersama seorang tetangga seumuran Ibu sendiri; listening to a well story from a next-door lady who known as a know-it-all-in-the-neighborhood, if I could say so myself. Bukan diskusi juga sih, sebab posisi saya yang lebih banyak mendengarkan. Tepatnya tidak terlalu sering memberi respon dengan bertanya balik, menjawab pertanyaan dengan excitement yang sama seperti anak kecil baru dapat mainan baru, serta lebih banyak menjawab dengan ooh gitu atau hmm. Bukan berarti saya ignorant, tapi ya, I am not really good at giving reactions. That’s it.

She’s a lovely housewife. Terbilang banyak membantu dan peduli sebagai tetangga dekat. 

Setelah berbasa basi, beliau menanyai saya tentang pekerjaan karena lebih jarang terlihat di rumah. She was showing a relieved face; thanking God that I’m no longer an unemployed creature that never leave my shell out. Dipikir-pikir, ternyata saat ini saya sudah memiliki tujuan kalau kelayapan di jalan.

“Beruntung ya!” ujarnya.

Pandemi ini tentu membuat ‘beruntung’ jadi nama tengah setiap orang yang mendapat pekerjaan baru. Well, things have been hard these days for everyone, I know. We’re all experience it.

Lalu beliau melanjutkan dengan cerita cukup panjang,”Situasi begini serba sulit. Ibu lagi ngurangin bikin kripik karena sepi pelanggan. Syukurnya Bapak—suami, masih bekerja. Hari raya kemarin nggak pulang kampung karena pengeluarannya bisa dua kali lipat. Belum lagi oleh-olehnya. Belum lagi buat upacaranya. Kalau nggak gitu kan nggak enak rasanya. Memangnya bisa kalau pulang nggak memberi saudara uang?”

Cerita mengalir begitu saja.

Inti dari pembicaraan tersebut adalah harus mengeluarkan uang nominal sekian untuk sekali pulang kampung. Seharusnya dua sampai tiga jam perjalanan dari Denpasar bukanlah jarak yang sangat jauh terlebih saat alat transportasi yang dimiliki cukup memadai. Masih juga terselip gundah dalam nada bicaranya.

Lalu menariknya dimana?

That particular amount of money.

Pernah suatu ketika dalam debat akbar perihal prinsip suami jika uang sebagai alat untuk berbuat baik menjadi pertentangan bagi saya. Sejak saat itu, prinsip tersebut terdengar aneh bagi saya. Kenapa aneh? Karena sepengertian saya, if you wanna make people happy, use money dan selebihnya, menjadi tolak ukur kebahagiaan. Bahagia kudu pakai uang, gitu?

Terdengar realistis, sih. 

Menjenguk sanak keluarga di kampung pakai uang. Membantu orang juga sudah semestinya menggunakan uang. Jelas semua tidak bisa digeneralisir, tetapi tetap saja, it is not really into me. Pelajaran Budi Pekerti jaman saya sekolah dulu, membantu orang bisa berupa moril selain materiil. Atau buku pelajaran yang saya baca salah? 😅 

Lalu apa kabar mereka yang kurang berkecukupan dan ingin membantu orang? Apakah mereka bukan terhitung orang baik? Bukankah pulang kampung adalah sebuah pilihan untuk membagi kebahagiaan karena sama-sama akan saling menjumpai? Atau memang sudah semestinya merasa bahagia atas berapa uang yang telah dihabiskan untuk tujuan tersebut?

Don’t think money does everything or you are going to end up doing everything for money. 

Okay… let’s say ini adalah unpopular opinion yang saya punya perihal bahagia dan uang. Kalau memang nggak punya duit untuk membantu orang kenapa harus memperlihatkan diri mampu? Who would you like to impress? Berbuat baik kan bisa lewat hal lain ataukah untuk bahagia mesti pakai uang?

Or am I too impulsive?

Oh ya, selamat hari Valentine. Sudah beli hadiah (jangan lupa pakai duit) buat orang terdekat biar bahagia? 🥴

Baca juga: Banyak Tekanan, Banyak Gaya?