Kenapa saya harus punya blog? Pertanyaan ini (semakin) sering saya dengar sejak blog beralih fungsi menjadi lahan bisnis. Saya nggak akan mencantumkan alasan-alasan tersebut dalam angka (karena ini bukan tulisan a la siaran TV “On the Spot”), tetapi saya cuma ingin menyampaikan alasan pribadi kenapa blog menjadi salah satu media hiburan alternatif ketika saya memiliki terlalu banyak waktu luang.

Blogger memang sebutan untuk seseorang yang aktif ngeblog, but… count me out. Menurut saya, saya sendiri bukan seseorang yang aktif ngeblog, juga bukan seseorang yang memungut pundi-pundi Dollar untuk online payment service providers sebangsa Paypal dan kawan-kawan sebagai sumber mata pencaharian. Pernah coba sign-up untuk Google Adsense, tapi nggak karuan. Nggak pernah sekalipun ada iklan yang nongol di blog saya, sampai saat ini. Gimana bisa dibilang kalau saya ngeblog untuk kerja tambahan? Meskipun memang, setiap artikel mengenai “Kenapa saya harus punya blog” memotivasi pembacanya untuk melirik peluang bisnis di blog agar mendapatkan pemasukan.

Menyimpulkan pemaparan di atas, tepatnya… saya punya blog hanya karena iseng. Alasan-alasan iseng di bawah ini cukup membuktikan kalau saya hanya iseng. Ya, iseng. 

Media nulis saat nggak punya uang beli diary kece.
Saya addicted sama diary sejak kelas 3 SD. Bapak saya mengajarkan untuk menulis kegiatan harian saya dalam sebuah diary, sehingga saya bisa me-review kembali apa yang sudah terjadi di hidup saya selama sehari, seminggu, atau malah bertahun-tahun ke belakang. Jadi saya bisa punya catatan hidup yang bisa ditertawakan, ditangisi atau di-miris-i setiap kali saya membacanya. Mulai dari diary dengan lakon Disney princesses sampai scrap book bikinan sendiri dengan ciri khas alay-nya anak remaja SMP, pernah saya miliki, karena nggak punya duit buat beli diary yang pakai gembok. Dulu, semakin elegan sebuah diary, maka semakin terkuraslah kantong orang tua.

Lama-lama, diary yang saya tulis isinya dengan penuh penghayatan itu tidak lagi jadi santapan otak di saat ingin bernostalgia, tetapi malah jadi santapan tikus. Sisanya dibuang mamanda karena dianggap nyampah. Sisanya yang bisa saya selamatkan (dan akhirnya saya bawa merantau) malah rusak karena saking seringnya pindah-pindah tempat tinggal.

Ada yang pernah inget nggak sih waktu itu Facebook juga punya fasilitas notes sebagai pengganti blog yang sudah pasti akan dibaca teman-teman kamu? Di saat saya nggak bisa meluapkan apa yang saya rasakan ke orang lain, blog maupun notes di FB menjadi media ampuh untuk mengatasinya. Saya nggak perlu beli diary lagi; which is harus saya tulisi dan tumpuk begitu saja ketika penuh terisi sehingga cukup memakan tempat di ruang kost sempit yang saya miliki.

Mengenal (dan pernah serius menekuni) teknologi, hingga jadi media belajar.
Sejak saya kenal internet kelas satu SMA, saya mulai nge-blog. Dulu karena ikut KSPAN (Kelompok Peduli Aids dan Narkoba) saya bikin blog tentang AIDS dan himbauan untuk menjauhi narkoba tapi nggak pernah saya urusin, kecuali di-update setelah selesai meeting internal dengan anggota lain *fufufu*. Lalu pernah ada blog tentang resep makanan karena suka banget masak (dulu), jauh sebelum Cookpad booming… Blog ini namanya Galeri Kuliner, bisa dilihat di menu “Let’s Cooking!“. Blog ini adalah awal mula saya mengenal Blogspot, serius banget blogging, sampai-sampai giat belajar HTML hingga ada niat untuk pakai Adsense tapi gagal total saking nggak ngertinya *fufufu (2)*, lalu sempat mempelajari Blogspot, WordPress dalam waktu yang lama sehingga pernah membawa dampak baik ke pekerjaan. Uuunchh.

Kemudian ketika blog saya sempat berubah jadi domain .com, senangnya nggak terkira. SEO adalah materi yang getol saya pelajari saat itu. Bagaimana menciptakan backlink yang bagus, meningkatkan traffic dimulai dari konten blog hingga promosi, memilih keywords yang baik agar ranking di Google bisa meningkat… Sangat bermanfaat, Saudara-saudara!

Bisa dibuka kapan aja dimana aja, selama masih ingat password dan email tentunya!
Salah satu tujuan saya memakai platform blog gratisan adalah bisa menulis tanpa harus takut kehilangan tulisan yang sudah saya buat (meskipun besar kemungkinan untuk di-copy and paste, hiks…) dan juga punya kapasitas besar untuk menyimpan tulisan ketimbang harus beresiko hilang di harddisk. Namun nyatanya, selama password dan email masih ada dalam ingatan, kapanpun dimanapun saya bisa temukan 🙂

So, don’t ever forget your password.

Mengembangkan bakat menulis.


Menulis menjadi kegiatan yang sangat menyenangkan di waktu luang. Sebanyak apapun to-do-list di kantor, tetep nyempetin buka blog cuma demi nulis sesuatu yang ga mutu sebenarnya *fufufu (3)*. Tetapi, kalau memang punya impian buat jadi penulis, blog adalah alternatif terbaik untuk menulis apa yang ada dalam pikiran. Sedikit banyak tentu akan membawa perubahan. Entah itu mood, bakat, kapasitas otak (yang tadinya cetek jadi berbobot), etc.

Penggembira di saat sedih, motivator di saat susah, pengganti tontonan komedi di saat ingin tertawa.
Percaya atau nggak, blog bagi saya adalah segalanya. Saya suka membaca kembali berulang kali tulisan-tulisan apa saja yang pernah saya buat dari jaman dahulu kala. Entahlah, saya betah berjam-jam membaca tulisan alay saat menginjak remaja, hingga mengamati bagaimana perkembangan kemampuan saya dalam menulis dari tahun ke tahun.

Beberapa tulisan motivasi yang saya nggak sengaja buat saat otak lagi di jalan yang benar, mampu menggerakkan lagi semangat saya saat sedang down. Di sisi lain, kegiatan ini jadi pelipur lara di saat perlu dosis Endorphin yang tinggi. Kind of nostalgic, but fun. 🙂

Berbagi, namun tetap privasi
Meski saat ini pamor media sosial sedang tinggi-tingginya, tetapi blog tetap menjadi media yang sangat saya sayangi untuk berbagi. Kalau di medsos hampir setiap orang membagi setiap detil kehidupannya dalam gambar dan tulisan singkat untuk mengejar likes, saya malah lebih suka memaparkan sesuatu dan gambar-gambar menarik dalam blog pribadi karena lebih privasi. Jadi saya terhindarkan dari cemoohan orang yang mengatakan lebay bin alay, “Bikin status di medsos kok panjang amat, lu kira cerpen?”.

Selain itu, blog membuat saya lebih fokus dengan apa yang saya ingin bagikan ke orang lain, karena memiliki wadahnya tersendiri. Misalnya, saya demen masak, saya buatlah blog Galeri Kuliner. You know, sudah sangat mainstream sekali kalau membagikan sesuatu di media sosial, bo! Ada kebanggaan tersendiri kalau tulisan di blog mendapat like meski hanya satu. Bangga, serius, meskipun juga like nya hanya berupa spam. Haaa.

Sumber ide
Ide-ide baru bisa datang dari mana saja, termasuk dari blog sendiri. Ketika membaca kembali isi blog dari bertahun-tahun yang lalu (as mentioned above), kadang ide muncul untuk membuat tulisan baru karena ambisi saya adalah memiliki blog yang tulisannya segabreg meskipun kebanyakan isinya curhat colongan. It doesn’t matter, as long as I am happy to find something new, reading whole articles again and again is gonna be supeeeer exciting! Ain’t it fun living in the ‘words’ world? 🙂

Semoga tulisan ini bisa membukakan pintu ide bagi teman-teman ingin mencoba menulis di blog dan menemukan alasan tersendiri kenapa harus punya blog. Kita tahu bahwa tidak semua orang bisa membayar domain pribadi… dan meskipun juga WordPress, Blogspot atau platform blog gratisan lainnya tidak se-booming dulu lagi, percayalah… tidak semua orang yang menulis di blog itu harus selalu mengangkat topik yang ‘berat’, ‘kekinian’, atau selalu bertujuan bisa menghasilkan uang sehingga kamu merasa sulit untuk memulai.

Blog hanyalah persoalan tentang latihan merumuskan ide dan membuatnya terbaca. Sesimpel itu.

Lots of love,