Meeting lagi. Ini sudah memasuki kali ke lima (enam, tujuh.. sebelas? saya lupa, haha) sejak kedatangan yang maha berkuasa (baca: bos besar) ke Bali. Sebelum bertolak ke dunia asalnya, Australia, banyak sekali keluhan-keluhan dan ke-riweuh-an yang dilontarkan beliau di kantor, mulai dari kebersihan, time flexibility and schedule, money, office regulations, friendly and fun working environment, etc. Ini aja saya nyolong waktu buat bikin tulisan (bukan bermaksud untuk ngomongin Bapak di belakang ya, Pak. Tapi ini adalah salah satu perwujudan kreativitas saya dalam mengembangkan isi otak).

Sebenarnya apa sih yang membuat karyawan betah di kantor? Ada yang mau menyumbangkan pendapat biar saya bisa bikin polling-nya? Hehe. Saya sempat baca penelitian dari training management services firm di Indonesia, ternyata ada hal lain yang menjadi penyebab karyawan tak bersemangat mengerjakan tugas-tugasnya daaaan temuan itu mengejutkan (di luar dugaan asumsi sebelumnya). Why? Separuh responden menyebutkan ketidakcocokkan dengan atasan langsung yang membuat mereka tak lagi betah bekerja. (Boss, be careful!).

Komunikasi memang menjadi problem terbesar disini. Pertama, saya rasa beliau adalah tipikal orang yang tidak selalu bisa menampung banyak keluhan (karena beliau menjalankan empat jenis bisnis yang berbeda di satu gedung dan dua diantaranya memiliki international connection). Berbicara dengan bos sangat ‘berharga’ sekali kedengarannya dan kami beruntung bisa melakukan itu setiap beliau tiba di Bali meskipun sesekali. Kedua, beliau adalah tipikal bos yang jarang punya kemauan mendengar (kecuali mendengar hal-hal urgent), ya kan? Ketiga, beliau adalah tipe bos yang menyeimbangkan hasil dan proses dibumbui sejuta strict regulations sehingga membuat karyawan tidak merasa nyaman dan malah malas ke kantor. Kalau mau nyaman, fasilitas oke, jam kerja tetap nggak boleh molor dikit, syarat dan ketentuan kuadrat berlaku. Saya bisa mengerti lah kenapa bekerja itu selalu menekankan hasil pekerjaan sesuai tenggat. Saya masih tidak masalah dengan itu. Tapi kalau sudah kaitannya dengan hal remeh-temeh seperti mobile usage, jam makan siang kelebihan 5 menit, ambil pekerjaan lain yang bukan job desc kita bahkan jumlahnya lebih dari tiga, inilah yang membuat saya merasa seperti robot, bekerja bak dalam penjara yang berakibat pada situasi kerja tak menyenangkan sehingga produktivitas mereka menurun tetapi penghasilan fluktuatif (halah).

Bekerja seharusnya menyenangkan. Bekerja sesuai deskripsi pekerjaan, selesai tenggat waktu, kompetisi sehat, tidak hectic. Bahkan ketika si Bos berkata A dan tidak bisa diubah layaknya udah dilapisi beton pun, saya akan dengan senang hati mengerjakannya (syarat dan ketentuan juga berlaku). Hari ini yang membuat saya cukup kecewa adalah saya seperti bukan bekerja di bidang saya setelah meeting hari ini usai. Saya ingin berbicara banyak dengan beliau, tapi hhh, wasting time, energy dan pikiran. Pokok bahasannya selalu itu-itu saja. Tentang aturan baru, tentang karyawan yang sering tertangkap CCTV menggunakan handphone di jam kerja (padahal komunikasi dengan klien), tentang jam makan siang yang kelebihan 5 menit (nih kan keulang lagi nyebutnya -_-), tentang A, B, C yang sudah dilapisi beton. Berulang-ulang, tidak ada topik lain, karena memang tidak ada masalah lain. Tidak terguncang, malah semakin keras.

Pendapat saya mungkin begini. Ini hanya unek-unek di luar jam kerja, di blog pribadi saya. Jadi jika Anda adalah seorang bos, maka saya yakin Anda punya insting untuk mendengar mana karyawan yang benar-benar mengeluh dengan regulasi yang Anda buat, mana yang perlu berkomunikasi dengan Anda, dan Anda harusnya secara garis besar tahu permasalahan mana yang sudah, belum dan akan diselesaikan. Karena Anda adalah the owner, yang maha berkuasa.

P.S: Tulisan ini tidak bermaksud menyinggung banyak pihak, dan mungkin tidak menyinggung sama sekali karena saking nggak nyambungnya (?)
Ya sudah, abaikan :p

Salam dari balik senja yang damai
Bali, 210115