1 Desember 2013.

Setahun lalu saya mulai menyesap manis-pahit dunia kerja, hidup dalam keterombang-ambingan finansial yang alamak bikin pusing. Tahun super complicated dengan masalah prinsip, cinta, keluarga, sampai masalah pribadi lainnya yang tidak mungkin saya sebut satu per satu..

I’d go back to December all the time…

Rasanya baru dua tahun yang lalu saya mengisi amunisi diri sarat dengan ambisi, semangat nyusun skripsi, praktek disana sini. Tahun-tahun morat marit penuh dengan kepingan mimpi. Sama seperti Desember empat tahun lalu, saya masih ingat bagaimana saya menyelesaikan kepingan cerita di hidup saya ; berjuang lulus dari bangku SMA.

Masih saya ingat bagaimana Desember 2000 saya pindah rumah ke tengah kota karena masalah keluarga. Rasanya seperti kemarin, Gina kecil berjalan di pinggir jalan besar, ketakutan campur grogi, menunggu angkot pertama kali. Membayar uang angkot yang hanya 300 rupiah, berangkat sekolah hanya berbekal 1000 rupiah. Betapa saya ingin kembali ke masa ‘Gina kecil’, tanpa ada satu krisispun yang saya alami.

Bagaimana rasanya bisa hidup sampai Desember tahun ini? Saya bersyukur. Pencapaian saya memang belum ada apa-apanya, tetapi tetap, saya bersyukur saya masih bisa hidup.
Semakin bertambah umur bumi, saya semakin takut kehilangan. Saya takut kenyataan berevolusi menjadi kenangan.

Saya tetap menyukai Desember, even time goes faster in December. Dimana bunga Flamboyan bermekaran dengan rimbunnya, kelopak bunga yang berguguran di sepanjang jalan, derai air hujan bergelayut di pohonnya sebelum jatuh memeluk tanah, membawa aroma teduh.

Di belahan bumi lain, musim salju menyusup masuk di bulan Desember. Keceriaan menyambut Tahun Baru semakin menjadi.

Tahun baru, yang berlari membawa waktu berlalu.

Lots of love,