Boss.

Hmm.. Jika kamu merasa bahwa they’ve made your life miserable af, yep, welcome to the club!

Beberapa tahun bekerja dengan perusahaan dan menghadapi tipe-tipe pemimpin (baik owner, manajer, jenis atasan lain, dan sebangsanya) yang berbeda-beda, membuat saya mafhum kalau seorang pemimpin, pada dasarnya memang memiliki basis ‘leadership‘, terlepas dari membuat kita berada dalam tekanan maupun enggak.

Setiap perusahaan tentu akan melakukan apapun agar perusahaannya tetap berkembang dengan selayaknya, maka kita pun sebagai pekerja sudah seharusnya melakukan kewajiban sesuai dengan job desc yang sudah tersedia.

Alasannya? Well, kita nggak bisa memungkiri bahwa pesatnya perubahan ekonomi (Indonesia malah kondisi ekonominya masih sangat fluktuatif) dikombinasikan dengan perkembangan teknologi, mau nggak mau membuat saya harus bekerja (hampir) 24 jam/7 hari seminggu dengan sedikit (atau bahkan nggak ada sama sekali) waktu istirahat untuk memenuhi target baik perusahaan dan target untuk diri sendiri. Saat ini malah saya bekerja di sebuah perusahaan sebagai karyawan tetap dan sisanya freelance.

Mengasikkan memang kalau pemimpin di kantormu bukan tipikal orang yang bossy, namun mereka memposisikan diri sebagai seorang leader. Beda? Iya, beda tahu! Saya rasa kalau kamu googling some point of view, you’ll find out.

Nih, biar nggak perlu googling…

Seorang leader akan mampu memimpin bawahannya dengan emotional intelligence, untuk membangun team yang solid, dan tentunya mampu memotivasi orang di sekitarnya tidak hanya sekedar dengan kata-kata, melainkan tindakan nyata. Hmmm.. kalau hanya melakukan satu atau dua diantara kriteria di atas, saya belum bisa anggap mereka adalah leader.

Gimana ceritanya kalau mereka ternyata tidak sesuai ekspektasi awalmu, bisakah kamu menghadapinya? Saya rasa, sejauh yang saya alami, saya sedikit stress juga menghadapi tipikal yang kesannya agak (hingga menjurus) “you-are-obviously-my-employee” gitu. You literally catch your boss’s destructive emotions, almost eveeeeeeeerytime! You’ve become demotivated, frustrated, and even angry. Finally, you want out, don’t you?

But if you can’t, congrats. It’s a matter of your own survival.

Pelajaran yang saya dapat adalah: let the stressed-out bosses be themselves. Biarin aja udah, gitu. Kita nggak akan selalu bisa bekerja dengan pemimpin-pemimpin yang sesuai keinginan, atau minimal baik lah, tetapi nyatanya kalau kamu memang seorang karyawan (seperti saya), mau nggak mau bisa menjaga perasaan diri sendiri sudah menjadi anugerah yang luar biasa supernya. Kamu harus menghadapi fakta bahwa mereka adalah orang yang me-manage banyak orang, tidak hanya kamu, atau saya. Tapi tetap bagaimanapun, para bos-bos di luar sana, ketahuilah bahwa, semestinya setiap pemimpin itu menguasai pemahaman menjadi seorang leader, tidak hanya membanggakan jabatan bos. Heuh, apalah arti sebuah jabatan mah.

And, at the end of the day, employees don’t leave jobs or organizations, they leave their bosses.

Thank you for reading, fellas!
Lots of love,