Dapur ramai. Dalam hitungan jam, perhelatan penting akan dilangsungkan. Kudengar dari Mamak sih, begitu. Bu Kades, si empunya hajatan, terlihat wara wiri mengecek sajian hidangan demi keberlangsungan aktivitas dalam perut para undangan. Tak lupa sesekali meraba sanggul biar posisinya betul. Aku mencomot satu kue lapis yang baru dibungkus rapi. Susunan mejikuhibiniu dengan intensitas warna satu tingkat lebih muda, lagi kekinian katanya. Cantik!

Kegiatan mengunyahku seketika terhenti saat Mamak memukul tanganku. Kue lapis meluncur bebas dari genggaman.

“Anak gadis jangan sembarangan begitu! Nggak baik dilihat orang,” dengus Mamak kesal.

“Siapa yang bikin aturan, Mak?” tanyaku gusar.

“Mamak, barusan.”

“Orang-orang tahunya Mamak yang punya dapur. Sebagai anak Mamak, aku anggap saja kuenya biaya sewa.” Aku meninggalkan dapur, namun semenit kemudian kusesali keputusan itu. Beberapa orang membuntutiku dengan ekor mata, penuh tanya. Sebagian malah terang-terangan menatap eloknya riasan kepala namun mengernyitkan dahi begitu melihat kaki. Lalu geleng-geleng kepala. Sandal jepit butut, menurut mereka, tidak pantas disandingkan dengan kebaya.

Lokasi rumah yang bersebelahan dengan Bu Kades sebetulnya tidak baik untuk kesehatan mental. Hampir setiap minggu, ada saja acara digelar. Saban rumah disambangi untuk arisan, dolanan berkedok PKK, atau cuma berbaur untuk gosip komplek murahan. Bedanya, masih lingkup desa. Belum taraf infotainment ibukota. Bergiliran tanpa nomor antrian.

Acara pinangan putri pertamanya begitu menyita perhatian publik. Kudengar ia dilamar oleh lelaki kota seberang. Mapan, lulusan luar negeri. Sudah didapuk menjadi penerus usaha orang tua, tentu saja. Jika tidak, mana mungkin Bu Kades mengadakan jamuan mewah secara jumawa. Tentu saja agar derajatnya terlihat setara.

Eh, bukankah ini artinya Mamak juga kaya? Buktinya, Bu Kades meminjam sementara rumah Mamak untuk dijadikan tambahan venue para tamu menikmati suguhan prasmanan.

Kebiasaan istri pejabat daerah macam Bu Kades kadang bikin aku merasa kasihan sama diri sendiri sebab memijit pening terlalu sering. Sesering pertanyaan kapan nikah muncul.

“Eh, Raras, tumben kelihatan. Apa kabar? Sudah didahului saja oleh Mira. Padahal saat kalian di kelas yang sama, sepuluh besar saja tak dapat. Eh, ternyata dia lebih pintar memikat lelaki. Calon suaminya ganteng, konglomerat lagi.” Ibu yang wajahnya kurang familiar itu terkikik disambut tawa sekumpulan wajah asing kerabat Bu Kades.

Maaf, Mira. Hanya saja, kau terdengar seperti perempuan nakal di telingaku.

Kandas sudah usahaku untuk menghindar dari pertanyaan macam pelanggar lalu lintas begitu menyambangi ruang tamu. Memang dasar sedang sial. Apakah harus kutunjukkan Surat Ijin Menikah baru para polisi pernikahan ini tidak mengeluarkan surat tilang? Sejak kapan jawabannya adalah ya? Akan ada pertanyaan lanjutan bak serial belasan musim yang berseliweran di laman aplikasi video streaming berbayar. Akan ada serangkaian surat-surat tambahan untuk memenuhi hasrat berbagi rumor daring berantai di grup keluarga. Akan ada lantunan nasihat tiada putus perihal ini dan itu.

“Kabar saya baik, Bu,” jawabku sekenanya. “Sudah rejekinya Mira itu. Saya mungkin belakangan,” lanjutku merendah. Harusnya tetap di dapur dan menyalakan mode hemat bicara hingga akhir acara.

“Makanya, Ra, jangan terlalu sering ngetem di kantor. Jadinya begini, susah jodoh.”

“Aduh, itu sandalnya diganti dulu! Sudah elegan begini pakai kebaya, alas kakinya, kok, sandal jepit bulukan!” Ibu bergincu tebal di sebelahnya tak mau kalah suara. Satu oktaf lebih tinggi dibandingkan ibu-ibu yang lain, kurasa.

“Di kantor banyak laki-laki kok, Bu. Kalo saya mau, bisa tinggal pilih.” Aku memilih untuk menghiraukan urusan sandal jepit. Belum tahu dia, harganya setengah juta. Masalahnya jarang kucuci saja.

“Berarti kamu saja yang pemilih. Ingat umur, Nak. Kasihan Mamak kalau nantinya kamu jadi perawan tua!”

Aku melirik Mamak keluar masuk dapur dari kejauhan. Apa hubungannya? Kalau toh menikah harus melahirkan aku dan akhirnya menjadi janda karena ditikung janda, aku lebih memilih Mamak tidak menikah saja. Melahirkan aku yang akhirnya jadi gunjingan tetangga. Bukankah sangat terhormat sekali?

“Tidak apa-apa kok, Bu. Daripada mau nikah, tapi hajatannya di rumah perawan tua? Aduh, pamali!” ucapku dengan nada sinis serupa, lalu pergi. Mereka melongo keheranan. Memangnya menikah itu kompetisi? Sadar akan karirku yang lebih menembus langit, mereka malah bergotong royong menyudutkanku sengit.

Kuambil hak tinggi dua belas sentimeter dari rak sepatu, lalu kembali ke dapur.

Bu Kades melipir ke luar rumah setelah mendapat panggilan telepon bahwa tamu kebesaran akan tiba dua puluh menit lagi. Kuhampiri Mamak yang masih sibuk menata jenis kue basah terakhir dalam nampan bertumpang lima. Macam orang mau jualan saja! Padahal jasa catering mudah ditemukan secara daring. Memang ya, kalau orang dasarnya pelit, semua bisa jadi rumit!

Dua jam berlalu setelah Mira dan sang kekasih resmi bertunangan. Riuh terdengar di beranda rumah diiringi suara Bu Kades mempersilahkan tamu menikmati penganan. Beberapa orang familiar wajahnya. Satu perempuan berkebaya pinggala penuh manik memiliki bentuk rahang menarik. Tak lama kemudian aku tahu ia adalah Ningsih yang dulu selalu berkepang dua, adik bungsu Mira.

“Iri ya sama Ningsih?” Mamak menyenggol lenganku. “Kelihatan sekali kamu langsung insecure. Tambah cantik ya dia?”

“Mak, hari ini makan cabai berapa?”

“Kenapa memangnya? Kok tiba-tiba ngomongin cabai?”

“Omongan Mamak mirip bakmi primadona di ujung gang. Pedasnya level dua puluh,” sindirku. Heran, seperti bukan anak kandung saja.

Ia cemberut. “Gimana ceritanya Mamak mau dapat mantu kalau anak Mamak kelakuannya begini sama orang tua? Judes, jutek.”

“Coret saja daftar nama Raras dari kartu keluarga. Cari anak yang menang kontes kecantikan. Bebet, bibit, bobotnya pasti tidak mengecewakan,” kataku setengah berbisik lalu memalsukan senyum dengan profesional ke beberapa undangan yang datang menyapa.

Pak Kades menghampiriku dan Mamak untuk mengucapkan terima kasih banyak karena telah mengijinkan acara Mira diadakan di rumah kami. Ningsih mengucapkan hal serupa sembari menggamit lengan ayahnya manja. “Oh, ini sih, sungguh suatu kehormatan bagi kami, Pak. Ya, kan, Ras?”

Kujawab sekenanya saja. “Ya, Mak.”

“Ningsih apa kabar? Kapan pulang dari Perancis, Nduk? Tambah cantik saja sekarang, mirip wong Bule!” Mamak memberondong Ningsih dengan pertanyaan standar khas kaum ibu-ibu dengan kadar rasa ingin tahu berlebih. Pak Kades mempersilahkan kami mengobrol lebih lama.

Sejak kapan logat Mamak berubah medhok?

“Baik, Tante. Sudah hampir dua minggu, timing-nya pas. Liburan sekaligus bantu-bantu menyiapkan acara. Wah, terima kasih! Tante juga awet muda sekali!” pekik Ningsih ceria, mengimbangi volume suara Mamak.

“Sudah lama sejak Mira, Raras dan kamu terakhir main di belakang rumah. Ada kali, belasan tahun lalu,” lanjut Mamak.

“Betul, Tante. Mbak Raras, apa kabar?” Ia mengalihkan pandangannya ke arahku. Entah kenapa aku merasa gugup. Apa benar begini rasanya rendah diri, seperti kata Mamak? Padahal presentasi di depan ratusan orang tidak ada masalah berarti. “Seperti yang kamu lihat, sehat walafiat,” kataku mencoba santai.

“Sayang sekali anak Mamak ini belum ada rencana menyusul Mira. Mamak jawab dulu sebelum kamu bertanya,” sahut Mamak sambil terkekeh melihatku melotot.

“Saya nggak akan nanya kok, Tan. Kurang sopan, takut menyinggung Mbak Raras nanti. Masih nyaman sendiri kenapa harus dilarang?” Aha, Ningsih membelaku! Ternyata ada yang waras juga di lingkungan kami.

“Dengar, kan, Mak? Kurang sopan!” Mamak cemberut seperti anak kecil. Ningsih tertawa renyah melihat kelakuan Mamak.

Meski nama Ningsih terdengar kuno bagi kebanyakan orang, namun penampilannya sangat modis. Ilmu fashion yang diperolehnya lewat beasiswa di salah satu sekolah mode ternama sejak dua tahun lalu, tertuang dalam kebaya yang tersemat pas di badan Ningsih.

Lama kami mengobrol tentang beragam topik. Sebut saja pekerjaanku, kehidupannya di Perancis, nostalgia masa kecil kami dan pembicaraan umum lainnya. Tak lupa aku mencuri ilmu perihal memadupadankan busana populer di musim ini. Bisa dibilang, di masa kanak dulu, aku lebih dekat dengan Ningsih ketimbang Mira. Kami dulu sering berbagi rahasia yang tak Mira ketahui. Ningsih masih menganggapku kakak terdekatnya padahal sudah sekian tahun tidak berjumpa.

“Meskipun tahu ini tak sopan, tapi apakah kau berniat menyusul Mira untuk segera menikah?” Aku mengumpat dalam hati, keceplosan. Sejak kapan aku terjerumus ke dalam komunitas orang-orang berkeingintahuan tinggi?

“Sama aku sopan-sopan aja, kok, Mbak. Santai, nggak usah sungkan. Iya nih, belum tahu cara bilang ke Mama dan yang lain, tapi sepertinya semua keluarga pasti menolak…” gumamnya menggantung.

“Eh, aku kesana dulu, Mbak, menyapa yang lain,” tutupnya setelah lima belas menit kami bercerita.

Belum selesai mengangguk, dengan riang ia menyambut tamu. Nampaknya teman lama. Cipika-cipiki jadi bagian dari sambutan hangat Ningsih.

Tak lama berselang, seseorang menghampiriku selagi sibuk mengunyah. Pemuda jangkung perlente tersenyum ramah tanpa kesan dibuat-buat. Memperkenalkan diri dengan sopan, mencoba mengajakku berbicara. Masih sepupu dari calon suami Mira, katanya. Gelas di tangannya menunjuk susunan kue di depan kami.

“Kamu suka sekali dengan kue lapis? Saya lihat kamu sudah makan tiga,” ia berbasa-basi.

“Pemuja, tepatnya,” kataku singkat.

“Begitu?”

“Tampilannya menarik, warna-warni. Rasanya legit. Saya kan, cinta ploduk-ploduk Indonesia,” ujarku meniru iklan lawas kenamaan. Kami tertawa.

Ia menghela nafas panjang sebelum melanjutkan dengan mantap, “Kalau ploduk Indonesianya semenarik kamu, saya boleh cinta juga?”

Aku menatapnya datar dan terdiam sebentar. Untung aku bukan tipikal perempuan yang digenjot kalimat gombal sedikit, langsung menggelepar. Sekalian saja aku buat dia ilfeel, dua kue lapis lain ku lahap sekaligus.

“Maaf, tapi saya masih sibuk makan kue lapis,” ucapku dengan mulut penuh lalu berlalu ke arah Ningsih di sudut ruangan. Memuaskan rasa penasaran atas cerita yang belum usai.

Sedang lowong, rupanya. Cantik!

***

Cerpen Sekte Kue Lapis ini saya buat dan sudah diikutsertakan dalam Lomba Cerpen Tingkat Nasional Ke-10 yang diselenggarakan oleh Tulis.me. Awalnya berharap masuk 100 besar sih, tapi ternyata.. hanya dapat piagam peserta.. 😅

Anyway, no worries.

Sudah lama sekali tidak melatih diri menulis fiksi. Banyak tangan-tangan lain yang memunculkan karya lebih hebat tentunya. Saya sadar, literasi yang kurang tidak membuat saya berharap banyak. Hehe.

Mungkin teman-teman yang ingin mengikuti lomba di periode selanjutnya, bisa rajin-rajin cek Instagram @tulis.me atau kunjungi website tulis.me. Kalau menang, hadiahnya lumayan banget, loh!

Meskipun label piagamnya hanya sebagai peserta, kalau dipajang disini boleh kali ya 🤣

sertifikat-lomba-tulis-me-cerpen

Kumpulan tulisan cerpen saya yang lain bisa di baca juga pada kategori berikut: Kumpulan Cerpen. Beberapa diantaranya juga pernah masuk daftar lomba cerpen dan diterbitkan oleh koran lokal di rubrik cerpen mingguan. 

Semoga terhibur dan terima kasih telah membaca~