Ingin rasanya ide-ide yang berterbangan dalam kepala sesegera mungkin dieksekusi menjadi tulisan baru dalam lima menit, bukan menunggu hingga saatnya waktu lowong. Ah, alasan! Padahal lebih sering tuh, ide yang datang ngendap-ngendap nyalain bohlam, tapi berbalik pergi karena kelamaan berpendar, terus redup sendiri. Alhasil, mati karena kehabisan energi. Parahnya lagi saat sedang nyapu atau cuci baju, tiba-tiba dirundung kata-kata majas sedemikan banyak, namun lupa di sepuluh menit berikutnya.

Komitmen untuk menulis rutin di blog sudah lapuk dimakan janji-janji resolusi sejak tiga tahun lalu. Inginnya setiap hari bisa menulis satu atau dua paragraf namun sayang sekali deadline seminggu pun tak mampu. Jadi untuk saat ini, saya mencoba untuk mengikuti (lagi) #NulisRandom untuk keperluan pribadi, meski nyatanya memang sulit untuk mewujudkan satu tulisan satu hari.

Jika pertanyaan ini muncul; apakah saat ini blog saya sedang dijaga kualitasnya atau kuantitas tulisannya? Mungkin jawaban saya adalah kuantitas樂 Saya ingin menulis sebanyaknya sampah di laut *eh, karena isi blog bagi saya adalah ‘sampah kebosanan’ yang cukup menarik bila dibaca lagi, berulang kali.

Meski begitu, saya sangat terkesan dengan beberapa blog  yang isinya mengedepankan kualitas dan komitmen untuk menulis. Contoh saja milik Hadi & Dessy’s Gratitude Journal ini. Tulisan mereka menarik, inspiring yet enchanting. Bahasanya sederhana dan mudah dimengerti. Pun jika menggunakan diksi yang sulit dicerna, magnetnya masih kuat menarik minat pembaca. Saya paling suka menjamah kategori Contemplation. Adem plus ada manis-manisnya gitu.

Sebut saja Laughing Bar, blog yang mengenalkan saya kepada si misterius Alé. Jatuh cinta sejak tulisan pertama. Meskipun jumlah tulisan baru hanya belasan, meskipun beberapa isinya tentang curhatan-curhatan seorang single lady yang kangen Bali, saya tahu kualitas tulisannya nggak pernah seminimalis itu. Kenapa saya sebut berkualitas? Karena setiap tulisan dalam blog-blog di atas selalu membuktikan mutunya tanpa perlu koar-koar mempromosikan mutu.

Kembali lagi ke masalah kualitas dan kuantitas blog. Well, kualitas dan kuantitas tulisan tidak berbanding lurus. Di sini, istilah “kualitas” tulisan bersifat subjektif karena perbedaan minat dan perbedaan cara pandang dalam melihat sebuah tulisan. Kuantitas juga belum tentu lebih penting daripada kualitas. Menulis dengan mementingkan kuantitas belum tentu akan meningkatkan kualitas. Nyatanya, ukuran kualitas setiap orang pasti berbeda, dan juga pasti rekomendasi untuk ukuran menarik dan tidaknya sebuah blog yang dimiliki juga berbeda. Tujuan kenapa harus punya blog pun nggak harus sama, ya kan.

Terlepas dari mana yang lebih penting, tetap menulis adalah salah satu cara untuk memberikan apa yang saya punya untuk pembaca, meski seadanya. Ide memang selalu menuntut untuk diterjemahkan ke dalam tulisan, jika memang kualitas yang ingin dikejar, kuantitas tulisan pasti akan mengikuti.

Sejatinya, blog milik penulis, kembali lagi kepada si penulis.