Mengenalkan buku sekaligus mengajarkan anak membaca sejak dini menjadi sebuah highlight dalam to-do list saya, jauh sebelum memiliki anak. Keinginan ini terbersit saat dua adik kandung—yang jarak umurnya cukup jauh dengan saya, tidak pernah memiliki buku bacaan yang layak di masa-masa golden age mereka. Begitu punya anak, jumlah wishlist buku di marketplace langsung mengganas, hehehe. Kan asyik toh, emaknya suka buku, lalu si anak nantinya juga ikut ‘berburu’ dan mengisi lemari dengan buku-buku kesukaannya.

Namun, mengenalkan buku sejak tahun pertama tidaklah segampang itu.

Hingga Wigar berumur sembilan bulan pada September 2019 lalu, saya belum pernah sekalipun melakukan check out pada satupun buku yang ada di keranjang belanja. Mungkin Wigar belum tertarik? Apa benar buku-buku tersebut sudah pas untuk anak seusianya? Pikir saya. Sedikit ragu, dan nggak ada pengalaman juga dalam membeli buku untuk batita. Mungkin juga karena saya belum lihai untuk mengetahui isi sebuah buku? Well, insting untuk engga check out ternyata berbuah manis karena saya bisa menemukan buanyaaak buku menarik (murah, tentu saja) dan diperuntukkan bagi anak seusia Wigar, saat saya mengunjungi London di bulan yang sama. Ini hanya beberapa di antaranya:

buku-anak
Belanja buku £4-5 atau setara 70-90ribuan di TK Maxxx Windsor. Murce~

Again, memberikan oleh-oleh buku untuk dikenalkan kepada Wigar itu susahnya bukan main. Buku-buku tersebut mendapat perlakuan tidak menyenangkan; dilempar atau diemut. Apa daya niatan saya untuk membacakannya salah satu buku dan mengenalkan gambar, tapi terlalu sering diabaikan.

Berpegang pada konsep ‘membaca buku sejak dini dapat membentuk kepribadian dan membantu perkembangan visual anak’, mencekoki Wigar dengan buku setiap hari adalah jalan ninjaku. Terlebih dia sudah rajin mengoceh, mengenali suara dan irama, serta mengenal bentuk (benda). Jadi saya mencoba untuk:

Memberikan pilihan buku

Setiap kali Wigar ingin ‘bermain’ dengan bukunya, saya biarkan dia mengambil satu dari semua buku yang dia punya. Buku yang sering dia ambil tandanya adalah buku yang paling dia sukai, biasanya dia memilih “My Little Book of Words”. Saya biarkan dia memfokuskan perhatiannya pada buku tersebut terlebih dahulu. Wigar tergolong anak yang terlalu aktif, jadi saya biarkan dia yang memegang kendali dulu. Mau bukunya dibalik sendiri, atau menunjuk sesuka hati, monggo, Nak.

Membaca kata per kata dengan nyaring

Ketika ia menunjuk suatu gambar, saya mengatakannya dengan nyaring dan berulang, tiga sampai empat kali. Anak-anak seusianya menyukai pola repetitif dan cara tersebut membuat mereka mudah mengingat. Oh ya, saya tidak membacakan kata seperti yang tertera dalam buku—notabene berbahasa Inggris, melainkan menyebutkannya dalam native language alias bahasa yang digunakan sehari-hari. Mungkin metode yang satu ini kurang tepat, tapi menurut saya, mengenal bentuk dalam gambar dan menyebutkan namanya dalam bahasa Ibu akan sangat membantu berkomunikasi sehari-hari nantinya.

Memperlihatkan benda asli

Cara lain yang membuat Wigar akhirnya tertarik dengan buku adalah menunjuk benda-benda yang ada di buku plus memperlihatkan aslinya. Misalnya di buku tersebut ada kata jam dinding, saya kemudian menunjuk jam yang tergantung di dinding agar dia memiliki gambaran bentuk asli dari yang dia lihat di buku.

Konsisten

Konsisten membacakan anak setiap hari adalah koentji, mak emak. Entah sepuluh atau lima belas menit sehari, semaunya anak aja. Nggak apa-apa kurang dari itu, yang penting teratur. Misalkan, selalu menyediakan waktu reguler membaca setelah makan siang atau sebelum tidur. Believe me or not, jika Wigar benar-benar bosan, saya bawa buku dan laptop ke tempat tidur. Sementara dia asyik menonton National Geographic dan menayangkan some kind of wild animals di laman Youtube, saya sibuk menyebut nama binatang yang sedang dia saksikan dan menyodorkan buku di halaman yang memuat gambar serupa.

Tidak memaksa

Namanya juga anak-anak, pasti ada waktu dimana mereka merasa bosan dengan sesuatu. Kalau sudah bosan dengan buku, jangan dipaksa untuk membaca. Atau mungkin tawarkan buku lain yang lebih bisa menarik perhatiannya. Buku “Pop-up Peek-a-boo” dengan tema underwater ini juga sangat dia sukai.

wigar-and-his-book
Saking sayangnya dengan ikan yang keluar dari balik batu…

Jika pertanyaannya adalah kapan waktu yang tepat untuk mulai mengenalkan buku kepada anak? Mungkin begitu dia lahir juga udah boleh, kok, jadi jawaban pamungkas bagi semua ibu yang kebingungan seperti saya. Tentunya pemilihan buku, terutama dari segi bahan, untuk anak di bawah satu tahun mestinya lebih diperhatikan. Buku berbahan cardboard dan tidak mudah rusak, misalnya. Bahan kain atau plastik juga boleh, karena ujungnya pasti tidak runcing. Selain itu, anak berusia di bawah tiga tahun akan menyukai buku-buku bergambar kontras dengan porsi gambar ‘penuh’.

Mumpung lagi stay at home, yuk luangkan lebih banyak waktu untuk membaca bersama agar membaca yang hanya sekedar minat, berkembang menjadi kebiasaan menyenangkan.