Saya sedang menantang diri untuk menulis satu artikel sehari. Sebenarnya ide ini selalu berulang. Jangan sebut soal resolusi tahun baru, itu hanya bualan. Tantangan ini malah berulang di pikiran seperti kutukan hampir setiap bulan. Hanya saja, kesibukan di kantor sebelum pandemi mempersulit saya (baca: malas) untuk menulis. Pun ketika ada tantangan menulis di laman komunitas blogger, saya hanya melihat sepintas lalu seperti yang sudah-sudah. Selalu tertimbun di kolom simpan sosial media; siapa tahu ada yang menggerakkan otak dan tangan untuk me-recall apa yang saya sebut passion itu.

Tiga puluh (satu) artikel dalam sebulan itu enggak mudah, terlebih saat sindrom writer’s block melanda. Banyak tema tercatat rapi, memang. Namun karena kurang latihan, mengurai ide menjadi minimal lima ratus kata bisa memakan waktu hingga setengah hari. Ampun deh!

Makanya bulan Juli ini sebisa mungkin saya menerbitkan tiga puluh satu artikel; dari yang tadinya berniat untuk memasang target lebih realistis, yakni tiga artikel seminggu.

Well yeah, ini hanya sekedar sharing dan juga pengingat bagi saya untuk menumbuhkan ide tulisan ketika sedang merasa buntu. Siapa tau bohlam lampu tiba-tiba muncul di atas kepala.

Menulis jurnal tentang kegiatan sehari-hari

Sejak sering leyeh-leyeh di rumah, saya selalu (seringnya lupa) mencoba untuk membuat jurnal singkat, tentang apa yang terjadi atau kegiatan apa yang saya lakukan setiap hari. Jika kamu fasih dengan ‘dear diary’ yang booming di tahun 90 atau 2000an awal⁠—maap masa remaja saya di tahun itu soalnya, maka jurnal hanyalah kata pengganti dengan arti sama, ehehe.

Sudah banyak kok aplikasi online journaling yang dapat memuat tulisan harian dengan fitur unggahan gambar untuk mempercantik tampilan. Lebih nyaman nulis di buku? Even better. Tidak perlu banyak, cukup satu atau dua paragraf.

Kalau merasa setiap harinya sangat membosankan—iya, semonoton itu, mungkin isi tulisan diubah sedikit? Bukan lagi cerita tentang kegiatan, melainkan lebih ke gratitude journal. Sesuatu yang patut disyukuri. Atau hal yang sudah dilakukan untuk orang lain.

nulis-jurnal

Menjalankan hobi untuk menulis ulasan

Ide berasal dari hobi apa saja, melalui platform mana saja. Banyak yang suka membaca review sebelum memutuskan untuk menggunakan/ membaca/ menonton sesuatu.

Ada 1001 jenis kegiatan untuk menampilkan artikel ulasan. Gadget, game, tempat makan, tempat nongkrong, you name it.

Berbagi informasi tentang sesuatu

Cara lain untuk mengupayakan satu artikel sehari adalah berbagi informasi tentang apa yang sedang trend saat ini. Yak, yang ngikutin berita up to date, tunjukkan tulisanmu! Selain itu, berbagi informasi juga bisa dengan menulis sesuatu yang kamu kuasai.

Memasak menu kekinian, menanam tumbuhan indoor, merawat satwa langka, tips untuk mempelajari bahasa asing dengan mudah, tips lolos Adsense—yang ini saya gagal terus 🙁

Baca juga: Akhirnya Saya Memutuskan untuk Kursus Bahasa Korea! Yay!

Lihat-lihat tulisan lama

Kalau punya banyak tulisan mandek, dilihat-lihat lagi. Siapa tahu bisa didaur ulang menjadi tulisan baru. Judul artikel ini sebenarnya saya simpan sejak dua tahun lalu dan terbit sekarang karena alasan sok menantang diri sendiri ini.

Banyak judul wara wiri di kotak drafts selama bertahun-tahun dan jika dilihat lagi, ternyata saya bisa mewujudkannya jadi sebuah tulisan 🙂

Menceritakan kegagalan

Merasa sering mengeluh karena gagal? Tulis keluhan sebanyak-banyaknya, boleeeeh banget. Asal nulisnya disertai dengan solusi. Eh bener loh, ini mungkin jadi semacam SOP bagi para pembaca jika menemukan masalah yang sama. Atau self reminder jika melakukan kesalahan yang sama agar tidak diulangi lagi.

Baca juga: Mengeluhkan Keluhan-Keluhan yang Harus Dilawan

Kehabisan ide biasa terjadi, tetapi semoga cara saya mengupayakan satu artikel sehari di atas dapat membantu dalam mengatasi writer’s block yang kalian alami. Selamat menulis dan tetap semangat!

gin-anf-tea-signature