Ketika membaca sebuah karya sastra, baik itu cerpen, puisi, atau prosa, banyak orang berasumsi bahwa kata-kata yang diungkapkan dalam karya sastra tersebut, rata-rata memiliki makna sulit ditebak. Jarang sekali orang berpikir tentang motif-motif apa sebenarnya yang ada di balik karangan itu dan bagaimana si pengarang menciptakan karyanya. Sastra di Indonesia kini telah berkembang pesat, ditandai dengan munculnya karya sastra modern dengan banyak ide-ide baru dan beragam kreativitas.

Sebuah karya sastra sudah tentu tak akan mungkin dapat dilepaskan dari pengarangnya. Sebelum karya itu sampai pada pembaca, sudah pasti ia melewati proses yang panjang, yang seringkali tidak diketahui oleh pembaca awam dan sering dispelekan oleh para penelaah sastra. Mulai dari munculnya dorongan untuk menulis, pengendapan ide, penggarapan, hingga karya itu menjadi sebuah karya yang utuh, siap dilempar kepada publik.

Sebuah proses yang panjang itu sedikit menggelitik saraf otak jika dipaparkan. Apa sebetulnya yang ada di balik karya sastra?

Penciptaan sebuah karya sastra pasti bermula dari gagasan dasar yang ada di benak; apa yang akan saya tulis. Lalu, memunculkan skema untuk mengembangkan gagasan tersebut hingga jadilah sebuah tulisan. Kronologisnya memang segampang seperti apa yang saya utarakan di atas, memang seperti itu. Pun orang lain tak akan menyangsikan, bahwa justru disinilah letak kesulitannya.

Bagi sebagian orang yang jarang menulis, pengembangan ilham di benak kita sangat sulit untuk dilakukan. Tak heran, pencarian ide pun bisa hingga berhari-hari. Tetapi lain halnya dengan orang yang telah terbiasa mengungkapkan gagasannya dengan menciptakan sebuah tulisan. Mereka pintar memanfaatkan keadaan, mengolah isi kepala dan mengubah apa yang mereka lihat dan rasakan menjadi sebuah tulisan penuh makna.

Tentu saja ketika menulis karangan sastra itu, ada waktunya segala sesuatunya berjalan dengan lancar, tetapi sering pula saya harus berjuang amat lama untuk sebaris kalimat, satu alenia, bahkan satu halaman. Beberapa kali kertas disobekkan, dan saya memulai dari awal ―repeat. Ketika menempatkan diri sebagai seorang penulis, saya merasakan bahwa ada bagian-bagian, dimana hal tersebut memunculkan rasa tak puas dalam diri, lalu mengulangnya lagi. Si penulis bukan saja membaca yang pertama, namun pembaca yang berulang-ulang membaca ciptaannya sendiri.

Esensi dalam karya sastra sebetulnya telah memunculkan sisi lain dari nilai-nilai kehidupan yang telah menjadi pedoman hidup. Misalnya saja, dalam penulisan cerpen. Kisah-kisah dalam cerpen mengekspresikan cerita di dalam kehidupan nyata, di sekeliling saya. Pengaplikasian kisah nyata itulah yang membuat saya dapat menginformasikan nilai-nilai yang dapat kita temukan di dalam cerpen secara tersirat.

Nah, ini, satu hal terpenting (bagi saya) untuk membuat sebuah karya sastra adalah bagaimana saya benar-benar memunculkan ide saya ke dalam tulisan, terlepas dari menarik atau tidaknya untuk dibaca. Tips ini menurut saya cocok diterapkan saat saya baru belajar menulis cerpen, puisi, dan sebangsanya. Pada dasarnya, kita tidak bisa memenuhi setiap keinginan orang dengan kepuasan, bukan? Ada baiknya kamu juga mengesampingkan hal itu dalam menulis.

Memang benar, ada beberapa hal khusus yang digunakan dalam penulisan cerpen, puisi, prosa atau sajak. Misalnya, pada cerpen umumnya mengandung konflik yang didasarkan pada kehidupan nyata. Puisi identik dengan rima, pemilihan kata atau diksi untuk mengungkapkan sesuatu dengan kesesuaian kata. Tentunya untuk memulai semua itu, kita harus sering-sering membaca karya sastra milik orang lain.

Para ahli sastra, kritikus atau penggelut sastra mungkin bisa menentukan nilai sastra di Indonesia. Secara sederhana, cerita yang betul-betul bagus adalah cerita yang bisa diterima dan yang dianggap bagus. Cerita yang digemari banyak orang tidaklah selalu bernilai sastra, biasanya sebaliknya. Yang dibutuhkan adalah cerita yang meyakinkan.  Sebabnya, untuk mengerti nilai-nilai sastra dibutuhkan pengertian, dan pengertian itu tidak bisa ditrerangkan tanpa memelajarinya terlebih dahulu. Sulit sekali untuk mengerti jika tanpa adanya sebuah studi. Sekalipun ada, pasti banyak sekali menimbulkan pertentangan. Justru pertentangan-pertentangan itulah yang membuat dunia sastra amat menarik. Perjuangan seorang pengarang menjadi lebih indah dan menarik. Lebih memesonakan.

Jadi, proses penciptaan masih erat hubungannya dengan menjadi penikmat karya sastra. Sebab, untuk menjadi seorang penulis memerlukan beberapa referensi mengenai ulasan karya sastra itu sendiri.

Karena saya terlibat dalam proses penulisan secara individual, saya sering tidak mampu melihat proses ini sebagai suatu objek yang tidak dapat dipelajari dan disimpulkan tanpa rasa ragu-ragu. Saya kadang tersandung dengan masalah mood untuk menulis. Akan tetapi, sebenarnya hal-hal itu hanyalah sarana dari persoalan yang lebih mendasar. Dan persoalan tadi adalah kepahitan hidup manusia sendiri, yang selalu dapat tertangkap melalui segala indra.

Kehidupan setiap orang adalah proses pertarungan antara apa yang tampak dan tak tampak, dan apa yang seharusnya ada dan tak ada. Orang menulis memulai dari sebuah permulaan, kemudian menggelinding ke tengah, dan berhenti di bagian akhir. Tapi tidak semua orang memilih jalur yang sama.

Menulis, adalah hal yang bisa dilakukan dari jalur manapun, sekalipun mengambil dari jalur menjorok ke bagian paling akhir, atau malah memulai dari tengah-tengah. Karena itulah menulis itu menjadi hal yang menyenangkan bagi saya. Sesuatu yang kita rencanakan bisa menjadi suatu kejutan tersendiri ketika proses itu ada. Dan bukan tidak mungkin seseorang bisa mengarang cerita tanpa menyadarinya.

Imajinasi sangat diperlukan dalam menulis. Kadang-kadang, saat banyak sekali imajinasi bergumul di benak saya, saat itu pula imajinasi itu menjadi objek yang tidak pernah saya ketahui apa bentuknya. Dalam menulis, memang saya (sangat) berkeinginan untuk menulis. Akan tetapi, selah-olah saya terdorong ke arah kekuatan yang dapat menggelincirkan kita ke arah keterbiusan. Apa yang saya tak ingin ungkapkan, sering tertulis tanpa rencana. Dan andaikata dalam proses itu saya mulai merencanakan sesuatu, yang terjadi dalam tulisan itu adalah bentuk tulisan yang bukan menjadi rencana sebelumnya. Selalu ada yang meleset, selalu ada yang berkembang dan selalu ada yang di luar dugaan. Datang dan menyatunya imajinasi sama beresikonya ketika imajinasi itu hancur dan tergantikan oleh hal-hal meleset yang mengejutkan.

Menulis sebuah cerita, pada dasarnya dibutuhkan ketekunan-ketekunan yang beruntun, lalu menghasilkan tulisan. Biarlah orang lain yang menilai, meskipun tidak berarti lepas dari penilaian diri sendiri. Sebagai pegangan dalam mengarang, bahwa sesungguhnya mengarang itu tidak bisa diajarkan seperti pengajaran dalam ilmu pasti. Tulisan yang buruk belum tentu dianggap buruk limapuluh tahun lagi, begitu juga sebaliknya.

Ketika menjadi penikmat sastra telah berhasil dilakoni, perlahan saya menyebut diri sebagai penulis, dan menyesuaikan ide-ide dasar pada secarik kertas lalu mulai menulisnya membentuk rangkaian paragraf. Setelah berhasil menyajikan sebuah tulisan, sebuah proses dalam kreasi sastra hadir, ditandai dengan munculnya beragam pertanyaan, kritik dan pujian mengenai apa yang telah kita tulis. Ulasan-ulasan memuji, lebih banyak untuk mencemooh diri, untuk membanggakan diri dan membuat semangat yang kendor menjadi maju lagi. Kritik yang memuat kekurangan itu membuat saya memahami kekurangan dan berusaha untuk memperbaikinya, namun jika kritik tersebut disertai dengan alasan-alasan yang meyakinkan. Disitulah sebenarnya harta berharga para penulis.

Namun bukan berarti, semua pujian itu menguntungkan dan semua celaan merugikan. Semua itu adalah sebuah proses menjadi seorang pencipta sebuah karya sastra, yang melahirkan penikmat-penikmat baru. Ibaratnya seperti sebuah siklus. Dari penikmat, menjadi seorang pencipta. Dan yang terpenting adalah penerimaan penulis mengenai ulasan yang diberikan oleh penikmatnya.

Thank you for reading, fellas!
Lots of love,