Pandemi membawa dampak yang tidak main-main bagi setiap orang, termasuk saya. Perubahan besar dalam tatanan kehidupan sehari-hari memaksa diri agar tetap waras. Belum lagi mencoba untuk nggak kemana-mana selama dua bulan dan berada di rumah aja, beuh, kebosanan mencapai level tertinggi. I want to spend time as best as I can, doing a lot of things that I want to. But in fact, it’s hard to convert my expectation into reality. Agar kualitas hidup di masa pandemi ini, baik fisik maupun mental tetap terjaga, apa yang bisa dilakukan? Hmm.. okay.. at least I’ve tried to compile some ways of what I’ve done. These main points might could be lightened up your life (too).

Tetap positif

Berpikir positif adalah koentji. Jangan bebankan pikiran dengan hal-hal negatif yang ada di sekitar. Keluhan demi keluhan hanya akan membuat kita kepikiran. Negativity yang menumpuk akan mengganggu kesehatan mental berujung pada penurunan kondisi fisik tubuh. Makan nggak enak, tidur nggak nyenyak~

Sempatkan waktu untuk “me time” setiap hari

Rebahan seharian buat emak-emak seperti saya mungkin hal yang sangat mustahil dilakukan. Meski di rumah aja, saya selalu menyempatkan diri setidaknya 30 menit aja untuk memanjakan diri dengan hal-hal kecil seperti memasak makanan kesukaan, mendengarkan musik, main game, bersenandung kecil, atau window (online) shopping.

Eng, I usually skip the latter, by the way.

Membantu semampunya

Sebagian besar populasi manusia (termasuk eyke) mengeluh atas permasalahannya masing-masing di masa pandemi ini. Kehilangan pekerjaan, duit menipis, susah cari kerja lagi, menganggur sementara kebutuhan harian harus selalu terpenuhi, dan masih banyak lagi. Jika memang situasi kita sedang baik-baik saja, cobalah untuk membantu orang terdekat dulu deh, semampunya. Barangkali ada teman yang baru memulai usaha menjual sesuatu, belilah tanpa menawar. Terlihat remeh, tetapi kepuasan batin itu tidak ternilai harganya.

Of course, I never force myself too much. Kalau memang tidak memungkinkan, mau gimana lagi? Tetap jaga sopan santun saat berkomunikasi sebab the way people caught our meaning siapa yang tahu. Speak mannerly, act respectfully, keep being humble and honest in every situation to everyone.

Atur waktu kerja

Bersyukurlah buat yang pekerjaannya sudah kembali normal.

Saat ini jam kerja saya mendapat pengurangan jadi dua kali seminggu saja. Waktu luang saya di rumah lebih banyak deh. Saya juga sedang mencoba menjadi pekerja lepas dan menyesuaikan diri dengan pola baru ini sungguh sulit.

Perlu usaha maksimal untuk mengatur porsi yang pas saat bekerja di kantor dan jadi freelancer. Ketika tubuh memberi sinyal lelah, beristirahatlah.

Disiplin ala normal baru 

Corona masih menghantui kita semua, hingga entah kapan. Meski sudah terhitung memasuki masa transisi ke normal baru, tetap disiplinkan diri untuk selalu memakai masker, cuci tangan dengan sabun, sedia hand sanitizer, serta patuhi protokol kesehatan jika berkunjung ke suatu tempat.

Jangan sampai sakit, deh, pokoknya. Sebisa mungkin, jangan. Namanya juga sedang menjaga kualitas hidup, siapa juga yang mau sakit. Yekan?

Banyak-banyak bersyukur

Kita memang dihantam badai yang sama, hanya saja berada di perahu yang berbeda.

Membandingkan kehidupan sendiri dengan orang-orang yang ada di sekitar terkadang perlu, tujuannya untuk selalu bersyukur. Lihat apa yang mereka tidak punya dan apa yang kita masih miliki saat ini.

Gratitude helps me to see the situation in a way that can lessen panic, and could open up our thinking to new solutions. Banyak-banyak bersyukur nggak akan pernah membuat rugi.

Baca juga: Saat Baby Blues Mendera, Apa Kabar Kesehatan Mental Saya?

bersyukur-menjaga-kualitas-hidup

Semoga poin-poin di atas bisa membuat kualitas hidup kita semua tetap terjaga dari segala hal buruk yang mungkin menimpa.

Stay sane and thank you for reading, fellas!
Lots of love,