Perempuan malas adalah perempuan yang kadar rajinnya sudah habis;
Perempuan berisi adalah perempuan yang saat masa suburnya keseringan diberi makan.

Seriously? Ini quote apa coba? 

Oleh karena saya seorang yang malas yet berisi, saya mulai khawatir badan kian melar dari hari ke hari. Olahraga pun tak enak, makan pun makin banyak. Sementara keinginan untuk terus sehat dan turun berat badan makin menjadi. Bersyukurlah para wanita yang suka makan tapi berat badan tak pernah jadi beban. Atas keluhan-keluhan saya inilah, si Doi mulai terganggu. Lalu ia rutin mengirimkan link video Youtube tentang Intermittent Fasting hampir setiap saya mengumpat soal berat badan —jangan ditiru. Namun emang dasarnya saya seorang pacar durjana, saya hanya menganggapnya sepintas lalu.

Eh, lama kelamaan, semakin Kisanak menghasut, saya termakan bujuk rayu.

Intermittent Fasting apaan sih? Oke, sederhananya, diet puasa. Bukan puasa diet, nanti malah tambah melar.

Sebenarnya boleh dibilang bukan diet juga sih, but it’s kinda how to build your pattern of eating. Bagaimana membentuk pola makan sehari-hari.

Pernah mendengar tentang diet OCD yang dipopulerkan oleh Deddy Corbuzier? Intermittent fasting mirip seperti itu, bahkan kurang lebih memiliki aturan yang sama. Saya nggak tahu persis bedanya dimana, LOL. Aturannya adalah tidak makan dalam jendela waktu tertentu. Ada pola puasa 16 jam, 18 jam, 20 jam sampai 24 jam. Namun beda Intermittent Fasting dengan diet lainnya, saya bebas makan apapun selama waktu makan tiba selama dalam porsi wajar.

Saya tertarik dengan cara ini karena pernah gagal diet buah untuk makan malam, diet nggak makan nasi, bahkan terbilang gagal total untuk diet dengan cara membatasi makanan tertentu seperti diet rendah lemak —you know, there are so many yummy things out there including the-fresh-from-the-oven roti sobeks! Cara diet tadi juga bikin saya cenderung mudah lapar karena mengurangi asupan makronutrien yang justru merupakan sumber energi.

Intermittent fasting tidak mengatur makanan apa yang harus dikurangi atau apa yang harus dikonsumsi, loh, by the way, namun lebih mengatur kapan saya harus makan dan kapan harus berhenti makan alias “puasa”. Biasanya metode ini menganjurkan untuk puasa makan minimal selama 12 jam, lebih bagus lagi jika bisa minimal 16 jam. Saya biasanya mulai berhenti makan saat pukul 8 malam dan mulai makan lagi keesokan harinya jam 12 siang. Kalau perut merasa kosong, saya biasanya hanya minum air atau teh tawar tanpa gula… karena saya sudah cukup manis. Uhuk.

Source: https://jamesclear.com/the-beginners-guide-to-intermittent-fasting

Manfaat Intermittent Fasting

Kenapa sih harus puasa? Bukannya nanti malah sakit maag kalau nggak sarapan? Manfaatnya apa kok harus nggak makan 16 jam, bukannya bahaya?

Well, gengs, dari jaman nenek moyang kita, puasa adalah cara yang harus mereka lewati untuk bertahan hidup. Memang diet ini tidak disarankan untuk beberapa kasus dan harus dikonsultasikan dengan dokter terlebih dulu. Tetapi logikanya, ketika seseorang memiliki pola makan ‘diatur’ dalam konteks aturan diet puasa ini, tentu hal tersebut akan membentuk perilaku makan yang lebih sehat karena tidak akan melewati waktu makan atau mulai makan saat belum seharusnya makan (laper mata).

Pola makan teratur membuat aktivitas di dalam tubuh menjadi lebih stabil, termasuk produksi insulin dan glukagon. Intermittent fasting membuat tubuh kita lebih sensitive terhadap insulin. Level insulin yang stabil amat penting dalam proses pembakaran lemak sementara produksi glukagon yang baik menjaga kadar gula darah tetap normal. Mekanisme insulin dan glukagon bagaikan yin dan yang. Dengan melakukan intermittent fasting, kedua hormon tetap pada fungsinya tanpa harus ada yang dominan.

Untuk mengerti bagaimana intermittent fasting dapat menurunkan berat badan, kita harus mengerti beda saat stase makan (fed state) dan puasa (fasted state).

Tubuh kita ada pada fed state saat mencerna dan menyerap makanan. Fase ini dimulai saat makan hingga 3-5 jam saat makanan dicerna. Dalam fase ini, tubuh akan sulit membakar lemak karena insulin level tinggi. Kemudian, pada rentang waktu 8-12 jam, tubuh akan memasuki fase puasa dan saat inilah lemak dibakar oleh glukagon karena tingkat insulin yang rendah untuk menghasilkan glukosa yang kembali dibawa ke darah.

Inilah kenapa intermittent fasting dikatakan dapat membuat berat badan turun tanpa harus mengubah porsi makan, jenis makanan, bahkan dengan atau tanpa olahraga.

Intermittent fasting doesn’t change what you eat, it changes when you should eat.

Mempersiapkan diri untuk Intermittent Fasting

Bersiaplah untuk hari pertama, itu saja. Saat bangun sampai jam 12 siang memang lapar luar biasa. Pun pagi-pagi setelah masak untuk makan siang itu godaannya banyak sekali. Jajanan basah setelah sampai di kantor, snack cokelat, pengen bikin teh susu hangat sembari harus membalas belasan email masuk, bahkan buah-buahan yang notabene cemilan sehat. Hari ini IF saya sudah memasuki minggu ketiga dan sudah turun 2 kilogram (karena memang saya tidak mengimbangi dengan olahraga huhuhu). Demi target saya untuk turun lima kilogram hingga dua bulan ke depan, saya relaaa.

Nah, agar berhasil, cara IF gampang ala saya:

1. Motivasi dan konsistensi

Tonton Youtube untuk mencari penjelasan lebih lengkap tentang Intermittent Fasting atau baca artikel yang memotivasi. Bahkan omongan pacar yang sudah lebih dulu IF, saya gunakan sebagai acuan untuk meraih goals. Entah itu untuk hidup lebih sehat, turun berat badan, lebih bugar… karena motivasi merupakan kunci diri untuk lebih konsisten.

2. Sibukkan diri

Selama 16 jam fase tidak ngunyah, lakukan apa saja yang bisa menjauhkan pikiran dari makanan. Kerja, baca buku, nonton, nulis blog 
Pokoknya hanya boleh makan kalau jam 12 sudah tiba.

3. Perbanyak air putih

Karena kopi dan teh memicu kerja lambung lebih berat bagi saya pribadi, saya minum air putih saja saat jam puasa. Lapar itu sebenarnya hanya ilusi wekekek. Dengan banyak minum rasa lapar akan hilang. Air putih memiliki fungsi penting dalam proses detox. Pekerjaan saya yang banyak duduk memerlukan berliter-liter air putih untuk proses metabolisme dan menjaga asupan oksigen ke otak.

The best advice I can give anyone, is to experiment and see what works best for you. Your body will give you signals. Follow what your body responds favorably to.

Meskipun cenderung aman, intermittent fasting tidak diperuntukkan untuk sebagian orang dengan kondisi medis tertentu. Oleh karena itu hindari atau konsultasikan dengan dokter jika mengalami beberapa kondisi berikut:

  • Memiliki riwayat diabetes
  • Mengalami masalah kadar gula darah
  • Mengalami tekanan darah rendah
  • Menjalani masa pengobatan
  • Memiliki indeks massa tubuh di bawah normal
  • Memiliki riwayat gangguan makan
  • Seorang perempuan yang sedang mencoba hamil
  • Seorang perempuan yang mengalami perdarahan berlebih saat menstruasi
  • Seorang perempuan yang sedang hamil atau sedang menyusui

Perlu diingat, makan dengan kecukupan nutrisi dan olahraga teratur adalah kunci hidup sehat dan mempertahan berat badan ideal. Jika melakukan metode ini untuk penurunan berat badan, efeknya dapat bervariasi dan tetap bergantung dengan nutrisi dan pola aktivitas. Informasi tentang kondisi medis yang tidak cocok melakukan inetermittent fasting ini saya dapatkan dari hellosehat.com.

Boleh ditonton juga salah satu referensi saya sebelum memutuskan intermittent fasting:

Thank you for reading, fellas!
Lots of love,