Selepas petang,
Tawamu hanya bisa berjingkat memenuhi ruang di dahi,
hingga keriaan lolongan anjing riuh samar beriringan

Membius tak putus.

Setelah petang,
kenangan muncul dan menggenang di ranjang
Lelakut menggerayangi mimpi tepat pukul dua pagi,
menghalau kelebat cita,
harap dan doa.

Menghunus tak putus.

“Mengalah, lalu berdamailah,” suara rendah terbang samar lewat pukul dua pagi.

Begitu petang, satu buku kubaca berulang;
bahwa kau hanyalah sebuah dongeng, bahkan saat kata pembuka belum selesai tertuang.

Terima kasih sudah membaca! Puisi lainnya bisa disimak di kategori Puisi & Prosa.