Euforia tahun baru mulai redup, saatnya memulai kehidupan nyata yang sama dengan hari-hari sebelumnya. Meski begitu, semangat nggak boleh redup juga, dong! Tahun baru identik dengan “everything-has-to-be-in-a-fresh-start”-year dan individu jaman now umumnya menggantungkan segenap harapan pada tumpukan resolusi. Semakin banyak, semakin baik. Semakin luas cakupan resolusinya, semakin hebat dirasa. Tipikal resolusi kian bermacam-macam, mulai dari nurunin berat badan dan makan sehat, berhenti merokok, berhemat, mulai investasi, pindah ke kerjaan yang lebih baik, punya pacar, bisa nikah tahun ini, dan banyak lagi. Bersyukurlah wahai kaum penggapai harapan jika sukses bertahan hingga pengujung tahun, karena tidak sedikit jumlah dari kalian yang tidak tahan banting sampai mesti gigit jari karena resolusinya patah saat masih seumur percikan kembang api *termasuk eyke*. Saya sendiri termasuk pribadi yang senang membuat resolusi untuk menghibur diri. Ya, penghiburan awal tahun sebagai pelarian pikiran. Sayangnya, tidak banyak yang berhasil dicapai karena berbagai alasan.

Kesenangan mengukir target-target tertentu untuk dicapai memang baik. Memotivasi malah. Ada spirit dalam diri saya untuk menumbuhkan kepercayaan sekaligus melatih pengendalian diri untuk menyegerakan pembuktian. Walaupun begitu, resolusi juga harus dipikirkan matang-matang dan yang terpenting: reachable. Bisa diraih.

Sering membuat resolusi tetapi gagal memenuhinya bisa berdampak pada rendahnya penilaian diri seseorang. — Amy Cuddy, Harvard Business School

Menyusun resolusi tahun baru akan bergantung dari pengendalian diri seseorang. Oh, ini nggak susah, kok. Tinggal tanya saja kepada diri sendiri: Apakah resolusi yang saya buat berdasarkan kesadaran atau kemauan sendiri untuk menciptakan hidup yang lebih baik atau atas tekanan eksternal? Misalnya, saya harus punya pacar tahun ini karena umur sudah lewat 25 atau saya harus diet ketat karena dengan berat badan 55 dan tinggi 164 saya terlihat sangat gendut. By the way, saya nggak jomblo. *eh

Apakah pertanyaan-pertanyaan mendesak dari orang tua dan sekitar semacam “kapan menikah?” mulai bergentayangan sementara pacar saja belum punya? Atau kebanyakan follow akun model V**toria Se*ret yang menampilkan bentuk tubuh (menurut kamu) ideal di Instagram sehingga poin-poin itu yang mendorong untuk mencetuskan resolusi tahun baru? Meanwhile, in da real world, tanpa pacar di atas usia 25 atau bahkan jika menilik lebih jauh ke tabel gizi, seseorang akan tetap hidup baik-baik saja meski kedua hal ini tidak direalisasikan. Ayo ubah ke hal yang lebih realistis, misalnya, saya akan memperluas koneksi dengan bergabung di komunitas baca di kota A, siapa tahu nemu mahluk single ready to mingle, atau saya akan ganti makan malam dengan perbanyak buah, sayur dan yogurt (bagi kalian anak kos yang mau diet, kalau sayur buah dan yogurt dirasa mahal, boleh diganti dengan saya akan lebih sering jogging sambil cuci mata di taman. Sounds great, doesn’t it? Sekali mendayung, dua poin terlampaui). Kembali lagi: reachable. Bisa direalisasikan.

Ngomong-ngomong soal reachable, yes, realistis, spesifik, dan dapat diukur dalam jangka waktu tertentu adalah kata kunci jika ingin membuat resolusi baru. Jangan sampai bikin resolusi yang tidak sesuai aksi sehingga menimbulkan kerugian bagi diri sendiri. Apalagi ditambah embel-embel ‘kalau’. Bisa bikin susah nantinya. Contohnya, pengen banget nonton The Script manggung di Jekardah bulan April kalau ada uang. Gimana caranya agar punya uang? Marilah menabung buat beli tiket, bukannya malah jaga lilin. *eeh, jangan ditiru!*

Resolusi yang gagal karena tidak realistis, bisa saja berlalu, bisa juga menimbulkan dampak riskan berbuntut panjang, seperti penyalahan diri dan penyesalan. Jadi jangan sampai gagal, udah gitu aja.

Resolusi nggak akan berguna jika diulang-ulang setiap tahun. Seseorang perlu melewati beberapa tahap sebelum membuat resolusi tahun baru. Dimulai dari tidak berniat untuk berubah, sampai akhirnya berkontemplasi dan berencana membuat perubahan, diikuti persiapan untuk berubah, dan yang terakhir, barulah melakukan tindakan-tindakan perubahan itu sendiri.

Menjalankan tradisi membuat resolusi tahun baru atau tidak adalah kebebasan setiap orang, asal nggak ikut-ikutan. Selain realistis, resolusi tahun baru juga harus disokong dengan komitmen penuh untuk membuatnya tercapai. Jika tidak, hal ini hanya akan menjadi angan tahunan berulang yang tidak kunjung terejawantah, atau bahkan beban di kemudian hari.

Kenapa resolusi tahun ini tidak dimulai dengan bersyukur? 😉

Thank you for reading, fellas!
Lots of love,