Suatu ketika, seseorang pernah bertanya,”Kenapa kamu nggak nulis novel aja?” Lalu saya menjawab dengan sengit (padahal kami sedang tidak bertempur, hahaha),”Emang nulis novel gampang? Need a good mood, time and wide imagination to make it as one until finish, ya know! Writing a novel isn’t that easy.. If I write novel, mostly stuck in the middle. I’ve tried many times but I’m feeling like missing my muse…” Dia mencegat dengan kalimat yang cukup nyelekit hati, “Stuck and surrender?” Ouch, strike! Sebenarnya, menulis itu gampang enggak sih? Jawabannya adalah; tergantung orang yang menjalaninya.

Setiap orang memiliki style menulis yang berbeda-beda, dan sebuah tulisan tidak bisa dikategorikan bagus jika si A menyebut tulisan ini menarik atau si B menyebut tulisan ini membosankan.

Baik buruknya tulisan seseorang itu hanya bisa dinilai oleh taste si pembaca.

Dinilai secara utuh memang tidak selalu bisa, tapi, dikomentari untuk dicari sisi ‘menarik’ nya itulah yang sering dilakukan oleh juri dalam ajang lomba tulis menulis 🙂

Do you know, kemampuan menulismu itu digambarkan seperti 1% DOA, 3% MOOD UNTUK MENULIS, 6% BAKAT dan 90% USAHA DALAM BENTUK LATIHAN? Jika itu adalah presentase untuk diri saya, maka memang seperti itulah penulis dimana-mana. (FYI, ini hasil penelitian ngaco. Don’t ever believe it. DON’T!)

Saya kerap kali mencari di Google, bagaimana cara menulis novel dengan baik dan benar, dan ternyata… memang mudah dan begitu-begitu saja, sama seperti ketika kamu memberikan saran kepada orang yang lagi patah hati, padahal kamu belum tahu patah hati rasanya bagaimana, hehe. Saya bisa menyerap maksudnya dan menerapkannya, tetapi ketika saya mencoba mulai menulis novel, nah terkadang saya stuck, dan bukan berarti saya menyerah loh ya. Setelah dicoba berkali-kali ternyata saya selalu mengalami masalah yang sama.

Suatu ketika, saya mencoba melatih diri dengan membuat tulisan yang berjenis bukan novel, dan ternyata saya selalu menyelesaikannya dengan baik (biar nanti yang baca aja deh berkomentar baik atau enggaknya, hahaha). Karena kegagalan dalam menulis novel itu, saya mungkin menyadari bahwa saya ternyata lebih fokus kepada tulisan pendek semacam cerpen, dongeng dan tulisan nggak jelas semacam di blog saya ini. Jelas, ini tidak bisa saya dibilang menyerah untuk menulis novel, tetapi hanya mengalihkan kemampuan saya ke bidang yang lebih tepat :p

I’m in love with words. Jadi, saat saya merasa stuck (tapi jangan harap saya akan menyerah) maka saya akan menganggap menulis itu adalah kebiasaan berkomunikasi dengan orang lain yang sangat alami, yaaah, tapi bedanya dalam bentuk tulisan sih.

Meskipun tidak pandai dalam berbicara secara lisan (ini serius!), namun saya berusaha untuk menggali dan mengandalkan apa yang ada di otak, dan mengira-ngira sejauh mana korelasi antara judul dan tulisan yang akan saya tampilkan sehingga bermanfaat bagi pembaca (catat, ini berlaku untuk semua jenis tulisan yang saya buat, baik cerpen, esai dan artikel).

Menulis itu gampang kok. Nyetatus di media sosial juga tergolong menulis, ya nggak sih? Bedanya, saya hanya perlu membumbuinya dengan imajinasi berlebih hingga kemudian (mungkin atau sialnya tidak mungkin) orang tertarik akan membaca cerita saya. Cerita itu dipaparkan sedemikian rupa sehingga yang awalnya tidak mungkin menjadi mungkin —seperti hubungan kamu dan gebetanmu yang masih di tangan orang lain, misalnya *ROTFL*

Cara gampang (ala saya) agar nggak cepat menyerah untuk nulis:

  • Banyaklah berimajinasi, karena imajinasi will make up your day! (Yihaaa~)
  • Tulislah tanpa mengedit, jangan menulis sambil mengedit tulisan. Kamu bisa update lagi tulisanmu setelah selesai menulis.
  • Buatlah bagan cerita, agar lebih mudah (tapi seriously, saya nggak pernah bikin ini sama sekali.)
  • Tulis cerita sependeeeeeeek apapun di pocket notebook. Puluhan aplikasi di smartphone juga sudah banyak disediakan untuk penggunanya. Catat sebagus apapun kata-kata yang ditemukan di jalan. (Misalnya di belakang body truk yang tertulis “2 anak cukup, 2 istri bangkrut”—ciaaaaaaaaaa). Ini akan berguna saat kamu merasa kehabisan ide.
Source: Tumblr
“Read before you write”

Menjurus ke kalimat yang agak berat sedikit, saya selalu mengusahakan agar saya seolah dapat menari dalam tulisan saya. Memainkan emosi pembaca, mencari sudut pandang yang berbeda dari orang kebanyakan, dan mungkin juga menyampaikan sesuatu yang orang lain tidak peduli. Maka pengalaman menulis adalah penting, sepenting latihan bagi pemain musik.

Banyak-banyak latihan ya, Nak, karena nggak akan pernah ada orang yang terlahir pintar dalam suatu bidang. Mengembangkan ilmu itu penting, buat diri sendiri kaya dengan informasi. Sekecil apapun —bahkan status di media sosial seseorang yang lagi saya kepo-in bisa dijadikan topik menarik untuk di-convert ke dalam sebuah tulisan.

Terakhir, sering-seringlah membaca. Saya juga kadang-kadang nggak punya waktu sih, untuk membaca 🙁 Tapi jika ditelusuri lebih dalam lagi, sebenarnya gampang saja membaca buku yang tebalnya sampai ratusan halaman. Ta-da, sudah ada e-book yang bisa dengan leluasanya dibaca di tablet dan gadget dengan layar berukuran buku. Seseorang tak akan mampu menulis jika tak didasari dengan membaca.

Ada pepatah mengatakan,”Penulis picik adalah penulis yang tidak pernah mau membaca.”

Siapapun, kapanpun, dimanapun, tak akan ada ruginya bila kita mengisi waktu luang dengan selembar koran di tangan, novel roman yang mampu menyegarkan pikiran, atau pulpen dan kertas yang membuat harimu ringan. Apapun itu, kertas, alat tulis dipadupadankan dengan sederet huruf, walau hanya selembar, tak akan pernah lepas dari makna, meski sederhana.

Reading is hot, writing is cool. So, which one are you into? 😉

Thank you for reading, fellas!
Lots of love,