Rintik hujan sudah memperkenalkan diri ke bumi sejak satu dua bulan lamanya, menandakan bahwa 2016 segera memasuki ujung masa. Pengidap petrichor bersuka cita; pun pengembara nostalgi, dan penyesap udara magis bulan Desember penuh aroma, turut serta. Sementara seorang pluviophile seperti saya… terburu-buru mengejar mesin waktu ke arah lampau, tak rela merantau.

“The only noise now was the rain, pattering softly with the magnificent indifference of nature for the tangled passions of humans.”

Rintik hujan malas berteman. Beberapa minggu ini selalu keroyokan, semampunya melawan. Jalanan berpeluh air langit, membentuk kubangan. Bunga pohon Bungur mulai gugur. Namun di depan mata, Flamboyan bermekaran.

Rintik hujan bertalu menyusup ke gorong-gorong jalan. Sementara dinginnya hawa senja betah menggiring serpih memori menuju pikiran, aroma semerbak kue manis pekat menguar berbaur dengan harum tanah basah meringankan beban. Di sisi jendela, sembari menyesap kopi robusta dalam hitungan satu, dua, tiga derai hujan, kenangan mengguyur beriringan menyusun sejumput genangan.

Saya masih dalam perjalanan mengejar mesin waktu ke arah lampau, tetap tak rela merantau. Oh, tidak. Mungkin, masa depan berpekan-pekan ke depan akan lekas berputar bersama balutan keengganan.

Can’t you see that it’s just raining?
Dear, ain’t no need to go outside.

Lots of love,