Menjelang senja, saya asyik melakukan throwback – bahasa keren yang biasa diungkapkan orang di social media, ke pertengahan tahun 2014 dan.. membersihkan blog ini dari debu yang menyeruak masuk entah dari celah mana. Padahal CCTV (baca: bos) sedang mengarah ke saya. Meski begitu, ketika waktu hampir menunjukkan pukul 5, iseng aja saya mencuri waktu untuk -sekali lagi- throwback. Dan throwback ini saya ungkapkan dalam sepucuk artikel penuh makna *eaa.

Dear Anda,

Sampai detik ini, saya memang tidak pernah bisa sekalipun lupa bagian mana yang harusnya saya lupakan. Sekuat apapun saya berusaha untuk mencoba lupa, saya akui, rindu menolak kelupaan itu menjadi ada. Rindu mulai mengundang pilu ketika dengan kejamnya menyayat rasa. Saya bisa apa?

Saya dan Anda memang tidak berjarak, pada awalnya. Jarak ini bukan ilusi. Perasaan saya dan Anda pun menguar pekat, pada mulanya. Perasaan ini juga bukan imajinasi. Saya dan Anda memang mengumbar cinta, tetapi tetap, kenyataan memang harus begini.

Saya kenal Anda meskipun kita tidak saling mengenal lama. Saya mengerti pikiran Anda meskipun kita tidak saling berpikiran sama.

Anda tahu kenapa saya harus memintal jarak sejauh mungkin, kenapa saya harus mengosongkan sebagian isi otak dari nama Anda? Saya punya alasan untuk itu.

Karena saya tidak seberuntung Anda yang setiap malam bisa menikmati bintang dan bulan tanpa harus kepincut beban. Atau Anda yang setiap senja bisa pulang ditemani rona jingga. Karena saya tidak akan tinggal dalam waktu yang lama.

Bersyukurlah karena Karma memang memilih Anda menjadi si Beruntung. Bagaimana tidak, Anda selalu memikul rindu tanpa jemu. Menuang rasa tanpa jeda. Menumpuk mimpi tak pasti tanpa letih… Anda akan mudah mendapatkan orang yang menggantikan saya, semudah menjentikkan jari.

Maaf saya harus lupa. Maaf saya harus membuat Anda menunggu. Maaf saya harus membuat jarak yang lebih panjang dari ini.

Maaf membuat Anda telah mengenal saya.

Tertanda, Hati.

Lots of love,