Lifestyle & Hobby, Stories

Traveling Pertama ke Singapura (Part II)

Bruakkk.

Baut-baut tetiba meluncur manis ke berbagai arah setelah saya menarik pegangan koper dengan penuh semangat. Oops. Ooooopppsss!!!

***

Koper menyedihkan itu lepas kendali. Mungkin dia muak akan bau kabin dan bagasi taksi? 
Orang-orang di sekitar lobby menoleh ingin tahu. Syukurnya enggak lama sampai nyamperin dan bawa-bawa kamera. Syukurnya lagi jika memang betul ada oppa-oppa yang bertanya: gwenchanayo? *sak karepmu wes!*

Saya tiba di kamar diantar oleh seorang room boy yang sudah membantu merusakkan kembali case lock sejak insiden koper terkunci di bandara. Begitu melempar koper lucknut itu, saya bersiap untuk petualangan hari ini: berkeliling singkat ala bule seharian! Lagi-lagi, saya pilih taksi untuk keamanan berkendara akibat tidak mempersiapkan diri untuk belajar rute MRT maupun bus. Moso udah dateng sehari, nyasarnya berjam-jam. Kan nggak lucu!

1. Gardens by the Bay

Ini adalah tujuan pertama saya yang terbilang cukup dekat dari hotel, kurang lebih menempuh 10 menit perjalanan. Saya penasaran dengan Bedugul-nya Singapura namun lebih modern, of course. Setelah tiba, pohon-pohon ikonik khas Gardens by the Bay menyambut. Mengingat penjelajahan di sini bisa memakan waktu lebih dari sehari semalam —luasnya 101 hektar, cyiin!, saya akhirnya memutuskan untuk ikut audio tour saja seharga SGD 8 dan hanya mengunjungi Flower Dome dan Cloud Forrest, dua dari key attractions which were absolutely awe-inspiring! Hari beranjak siang dan sedikit mendung, sembari menunggu giliran naik ke kereta audio tour, saya memutuskan untuk makan siang di lokasi yang sama. Café Crema menjadi tempat pilihan untuk menunggu dan dekat dari main information desk.

Wafu Hamburg Don, the Japanese taste I could not resist!

Perut kenyang, hati pun senang. Tip for a first timer: bawalah botol minum kemana-mana. Jangan cuma bisa tak gendong kemana-mana. Air keran disini bisa diminum tanpa takut diare. Air minum per botol mahal, sekitar SGD 3.

Audio tour berlangsung selama 20 menit dengan mengelilingi Gardens by the Bay, mulai dari Cloud Forest, Flower Dome, Heritage Gardens, World of Plants, Dragonfly Lake, Sun Pavilion, sampai di OCBC Skyway & Supertree Grove.

Bersiap untuk Audio Tour. Praktis untuk mempersingkat waktu.

Kemudian saya pindah menuju Flower Dome setelah membeli tiket seharga SGD 28 untuk dua conservatories —Flower Dome dan Cloud Forrest. Conservatories ini merupakan rumah kaca yang didesain dan bersuhu sesuai dengan habitat asli tanaman yang ada di dalamnya. Berbicara tentang tiket masuk, OCBC Skyway juga bayar. Tapi karena nggak punya waktu, saya skip. Kata mas-mas di bagian informasi, Supertree Grove juga salah satu primadona di tempat ini. Rekomendasi waktu berkunjung adalah saat malam hari, karena ada light show yang mulai sekitar 7.45 malam.

Tiba di Flower Dome, decak kagum itu sudah pasti. Ratusan spesies bunga dari berbagai penjuru (kecuali Antartika) tertata sangat apik dan berwarna. Semua bunga tropis hingga sub-tropis bisa saya temui disini terutama bunga favorit saya, mawar dan bunga bank. Bulan November hingga Desember nanti Flower Dome mengusung tema Christmas Village dan bunga-bunga yang mendominasi adalah warna merah.

Puas ke Flower Dome, saya melipir ke rumah kaca tetangga, Cloud Forrest. Seperti namanya, situasi di dalam dome ini benar-benar menyerupai hutan, baik iklim, kelembaban, maupun jenis tanamannya. Saya disambut oleh replika berupa ‘gunung’ air terjun setinggi 35 meter yang sangat menyejukkan. Replika gunung tersebut merupakan bangunan setinggi beberapa laintai yang ditutupi dengan lebih dari 2000 jenis tanaman. Nggak nyesel lah berkunjung ke tempat sesejuk ini setelah panas-panasan di luar. 

Setelah dua jam wara wiri di sini, rasanya tidak lengkap jika jalan-jalan di Singapura tetapi belum berfoto di:

2. Merlion Park

Seperti layaknya Eiffel Tower di Paris, patung setengah ikan setengah singa ini juga tak luput dari wisatawan. Yessss, patung Merlion ini adalah trademark negara Singapura. Saya kesini cuma numpang foto-foto doang, lalu pergi. Tempat ini ternyata populer untuk foto pernikahan. Saya malah rebutan tempat foto sama beberapa pasangan yang mengabadikan momentum pra nikah. Untung bukan saya yang ada di sebelah si bridegroom *ganjen*. Tiga puluh menit kemudian, karena kaki mulai pegal, saya minggat. Benar-benar unfaedah tapi puas. LOL.

Bakpao nggak cuma bisa nempel di kepala karena nabrak tiang listrik. Bakpao juga bisa nemplok di muka seiring bertambahnya usia.

3. Singapore Cable Car to Sentosa Island

Meski kaki sudah sedikit pegal karena sepatu agak sempit saya masih semangat untuk pindah ke tempat selanjutnya. Tip for a first timer: pakailah sepatu kets dan kaos kaki yang nyaman untuk jalan kaki sejauh dan selama yang diperkirakan, sebelum lecetnya mereka bikin kamu nangis bombay tiga hari tiga malam. Dari Merlion Park taksi jadi pilihan transportasi ke tujuan saya selanjutnya yaitu naik Singapore Cable Car dari Mount Faber station, lalu nyebrang ke Sentosa Island melewati Harbour Front station, kemudian naik monorail train dari Imbiah Station menuju Beach Station untuk nonton atraksi Wings of Time di Siloso Beach (padahal pengen masuk ke Universal Studio, fotoan sama artis idola di Madame Tussauds, SEA Aquarium… tapi lagi-lagi, apa daya cuma punya waktu jalan-jalan sehari sebelum school confrence di keesokan hari. Saya beli Cable Car dan Wings of Time ticket sekaligus, malah dapat diskon! Caranya? Manfaatkanlah jurus merayu ala emak-emak yang biasa dilakukan kalo lagi belanja pasar di Indonesia, dijamin berhasil.

Mendung bukan berarti hujan~ Syukurnya sih nggak hujan.

 

Tiba di Sentosa Station, saya turun dan keramaian menanti. Madame Tussauds menjadi salah satu primadona di lokasi ini. Empat elevator menuju Imbiah station saya lewati untuk mencari monorail ke arah Siloso Beach. Kereta ini berangkat hampir setiap 10 menit. Waktu menunjukkan pukul 5.40 sore, sementara atraksi dimulai pukul 7.40 malam. Ngopi dulu~

Cappucino panas di The Coffee Bean.
Numpang fotoan di depan Madame Tussaud, eh mbak Gaga ternyata didaulat jadi satpamnya.

4. Siloso Beach and Wings of Time

Tiba di Siloso Beach, ternyata gate untuk nonton Wings of Time belum mulai karena masih terbilang cukup sore. Jam setengah tujuh disini masih terang banget, lho. Wings of Time adalah salah satu event yang nggak boleh dilewatkan selagi mampir di Sentosa. Pertunjukan ini mirip dengan Devdan show di Nusa Dua Theatre dalam artian kedua event ini memadukan seni, kreativitas, light art dan 3D art. Bedanya, kalau di Devdan itu menonjolkan seni akrobatik di dalam theatre, tapi kalau di Wings of Time menampilkan seni laser dan LED di atas water splash ditutup dengan letusan kembang api berlokasi di pinggir pantai.

Senja di Siloso. Salah kostum banget dah LOL

Penasaran dengan cerita Wings of Time? Nonton aja di bawah. Syukurnya saya dapat tempat duduk di depan dan bisa langsung nonton tanpa ada kepala-kepala yang mengganggu. Hehehe.

Pertunjukan ini diputar selama 20 menit dan dua kali tayang dalam sehari, yaitu pukul 19.40 atau 20.40. Begitu selesai, saya memutuskan kembali ke hotel karena capek pakai banget. Eh, saya lupa di depan hotel ada mall Far East Plaza yang hampir tutup karena dari Sentosa ke Scotts Road memerlukan waktu 35 menit dan waktu menunjukkan hampir pukul sembilan malam. Syukurnya masih ada toko oleh-oleh yang buka meskipun harganya nggak semudah Bugis Street atau Lucky Plaza. Mmm, yang penting bawa pulang titipan.

Hari ini ditutup dengan lecet kaki dan pegel badan~

Thank you for reading, fellas!
Lots of love,

Tagged , ,

2 thoughts on “Traveling Pertama ke Singapura (Part II)

  1. Menarik! Aku ke sana satu hari saja untuk beres KITAS, tujuh tahun yang lalu. Tidak lihat tempat apapun selain mall-nya😅

Leave a Reply