Gravitation is not responsible for people falling in love. — Albert Einstein

Ini ceritanya ngebaca (lagi) review film paling membosankan versi saya; Gravity. Tiba-tiba terlintaslah satu quote about those who are in love, dan terciptalah tulisan ini.

Love. Ngomongin kata ini mendadak semua jadi cheesy. Gimana enggak, semua orang juga tahu kalau love is a potent emotion. It affects the physical and mental state of wellbeing. Tapi jika prinsip saya sama seperti si Tom dalam tulisan saya sebelumnya, sampai kapan saya akan bertanya-tanya ke diri sendiri : do I (truly) believe in love? Karena begini, dulunya (dulunya ya), saya menganggap bahwa when I fell in love, it is equal to the moment when I realized that happiness was never about getting a person. They are only a helpmate towards achieving my life mission. Kkkk, kalimatnya jahat banget ya :p

Eh tapi bener lho, achieving mission dalam hal ini maksudnya saya belajar mengenal orang. Meskipun (saya males bilang ini) pada akhirnya gagal, tapi seenggaknya saya bisa mengerti karakter orang, berani mengakui ketika ketidak cocokan terjadi bahwa memang karena hanya tidak cocok seperti pemaksaan pemakaian rok ke laki-laki normal (LOL), menerima bahwa saling menyalahkan adalah hal paling kekanak-kanakan yang pernah ada. Pada akhirnya yang kita perlukan bukan hanya cinta menggebu sekedar bilang I love you, tetapi saling percaya dan pengertian secara pelan-pelan penuh kepastian.

Nah, balik lagi ke pertanyaan judul di atas. Apa sih sebenarnya yang terjadi, apaaaa? I couldn’t understand when I came across friends, who looked at me with dreamy eyes, and said, “I have fallen in love.” Absentmindedness, lack of appetite, spurts of euphoria, and of course the compulsive need to hug a pillow are the common symptomps I’ve seen the most. Their answer are usually YES for these several SILLY questions:

  1. Do you find yourself thinking about a special person all the time?
  2. Are you always anxious to spend time with that special someone, night and day?
  3. Do you feel secure, happy, and at peace when you are with your one and only?
  4. Is it hard to fall asleep because you think that reality is finally better than your dreams?
    etc. etc.

Kalau jawaban saya BISA JADI, apa saya bisa dikategorikan jatuh cinta?
Mungkin gara-gara itu saya tidak benar-benar mengerti kapan saya jatuh cinta.

Setahu saya, jatuh cinta bukanlah tentang menang atau kalah. Menang karena telah berhasil menjadikannya separuh bagian dari hidup kita, bukan juga tentang kalah bertahan dari keadaan menyakitkan yang mengharuskan kita melihat situasi dan kondisi, serta efek yang mungkin terjadi. Menemukan cinta yang menurut saya bisa benar-benar dicintai seperti mencintai Tuhan dan keluarga, cukup susah, yaaa.. karena porsinya juga memang beda sih. Menentukan apakah seseorang dikatakan belahan jiwa atau bukan juga tidaklah semudah itu. Perasaan deg-degan nggak bisa dipakai ukuran. Perlu proses yang cukup lama untuk tahu. I’m not afraid to fall in love, I’m just afraid to fall for the wrong guy AGAIN.

Intinya setelah berputar-putar dua episode, jatuh cinta memang membuat dunia sedikit upside down seperti jawaban YES atas pertanyaan-pertanyaan menggelikan itu. Namun hal paling esensial dari apa-yang-terjadi-saat-jatuh-cinta (meskipun saya tidak benar-benar paham) ketika seseorang dengan tulus melakukan suatu hal bermakna yang tak terpikirkan sebelumnya bahkan oleh dirinya sendiri. Sesuatu yang membuat saya bukan berekspektasi atas apa yang akan terjadi, tetapi berharap yang paling baik untuk orang yang disayangi. Bukan pernyataan I expect he will love me back, tetapi I hope he will happy to know me.

 kita berdua tak pernah ucapkan maaf tapi saling mengerti
kita berdua tak hanya menjalani cinta tapi menghidupi

ketika rindu mengebu-gebu kita menunggu
jika jatuh cinta itu buta
berdua kita akan tersesat
saling mencari di dalam gelap 

Jatuh cinta memang sesederhana itu.